Notes : Copas WA groups
Hanya mencoba untuk berbagi sesuai kemampuan, walaupun banyak kekurangannya, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
DEPAN
Sungguh, kadang kejujuran itu terasa sangat menyakitkan, tetapi katakanlah dan luruskanlah saja niatmu
Hisablah dirimu sebelum di hisab Allah dan jangalah menyibukkan diri menghisab apalagi menghisap orang lain
Memang nikmat berbagi dalam kebaikan & kebenaran (modifikasi dari KZ)
Salah satu tugas dalam hidup ini begitu sederhana, hanya bersabar dan besyukur (AFF)
Orang yang melewatkan satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardu yang ia lakukan atau kemuliaan yang ia wariskan atau pujian yang ia hasilkan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan,maka sungguh-sungguh ia telah durhaka pada harinya dan menganiaya diri. (Dr. Yusuf Al-qardhawi)
-----------------------------
http://refleksirifa.blogspot.com/
https://rifateashahihbukhari.blogspot.com
http://www.facebook.com/ridwan.farid.3990
id.linkedin.com/pub/ridwan-farid/6/17b/164
------------------------------------
YM & Gtalk : rifa120
Rabu, 19 Agustus 2015
BERCANDA alias GUYON
Notes : Copas WA groups
Selasa, 11 Agustus 2015
Prinsip-prinsip negosiasi
- apapaun bisa dilakukan, jadi kita harus hati2
- kita tidak bisa memaksa lawan kita bernegosiasi dengan cara yang baik.
- idealnya, Kita harus mengenal lawan bicara kita, tipe komunikasinya, atututtude, dsb
2. Lakukan 3 C ( Cermat, Cerdik dan Cepat)
Cermat --> janji harus spesifik, kadang butuh penasihat seperti notaris yang sudah pengalaman di bidang negosiasi itu
Cerdik --> temukan cara-cara baru
3. Lakukan negosiasi tanpa emosional
- Lakukan perencaan terlebih dahulu
4. Jangan mudah berkata tidak dan jangan mudah menerima kata tidak
- Jika lawan berkata tidak, tanyakan kenapa tidaknya, dan tanya juga bagimana supaya jadi ia
5. Semua dapat dinegosiasikan, tetapi tidak semua layak dinegosiasikan
- pilih2 lah hal yang perlu dinegosiasikan
6. The Power of Ngeyel, Gigih, Ngotot
- menurut survai, orang yang di tolak lebih dari 5x dengan orang yang sama, memberikan hasil 69%(?) dari total penjualan perusahaan.
Note : dicatat dari acara smart FM
Tung Desem Waringin-Smart FM
Selasa, 04 Agustus 2015
Mengajarkan anak Cerdas Finansial
KONSEP-KONSEP YANG HARUS DITANAMAKAN
1. Uang itu harus dicari bukan diminta dan dapat dengan mudah
2. Untuk mencari uang harus bekerja (berusaha) dan harus dengan cara halal supaya berkah
3. Ajarkan membedakan atara keinginan dan kebutuhan
- beli saat dibutuhan dan memang penting dan beli saat yang tepat
- merubah konsep PD tidak berdasarkan meteri yg dimiliki tapi berdasarkan presasi dan berbagi
- barang murah (promo, discount dsb) bukan berarti kita harus membeli
4. Merencanakan kebutuhan
ex :Beli buku tulis, seragam, dkk,
- merasakan efek jika perencanaan tidak baik, contoh buku habis tidak bilang, maka "hukumannya" nyatat di tempat lain dulu sebelum beli
5. Mulai mengajarkan mencatat perecanaan dan Pengeluaran (bisa mulai dari SMP)
- Dicatat atara perencanaan dan implementasi (Plan vs Actual)
6. Belajar berinvestasi untuk kebutuhan dirinya
- contoh saat investasi buat pendidikan. si anak tau,
- buka tabungan atas nama anak untuk kebutuhan jangka panjang atau menengah (Contoh untuk beli sepeda, dsb)
7. Ajarkan uang sebagai alat bukan tujuan
Bikin tujuan dan jadikan uang yang direncakan untuk jadi alat.
PRAKTEK
1. Sejak Kecil diajarkan membeli dan memilih barang dengan pertimbangan
2. Mulai kelas 4 atau 5 SD, mulai berikan uang saku mingguan (untuk kebutuhan mingguan) dan memberikan dia mengeluarkan sesuai kebutuhan selama 1 mgg
3. Mulai kelas 6 atau SMP sudah mulai memberikan uang saku Bulanan berdasarkan perencanaa
NOTE
- jangan pernah berfikir membicarakan uang itu tabu dan materialisme
- ajarkan pengelolaan sejak dini
- uang itu di tangan bukan di hati
note : Hasil catatan dari acaa Radio smart FM dalam acara Smart Financial
Senin, 27 Juli 2015
MENGAPA PARA GURU DI AUSTRALIA LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA
Seorang guru di Australia pernah berkata kepada saya
“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”
“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?”
Saya mengekspresikan keheranan saya, karena yang terjadi di negara kita kan justru sebaliknya.
Inilah jawabanya;
1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka akan menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”
”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” jawab guru kebangsaan Australia itu.
1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.
Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.
Apa yang dipertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.
1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?
Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.
Yuk kita ajari anak/cucu kita untuk mengan[truncated by WhatsApp]
Minggu, 26 Juli 2015
Kewajiban Suami dan Istri
“ Sebaik-baik istri yaitu yang menyenangkanmu ketika kamu lihat, taat kepadamu ketika kamu suruh, menjaga dirinya dan hartamu ketika kamu pergi .“ ( HR. Thabrani )
keduanya dengan pandangan kasih sayang, Dan bila suami
memegang telapak tangan istrinya, maka dosa-dosa mereka keluar
dari celah jari-jari tangan mereka.” ( HR. Rafi’I )
Kamis, 23 Juli 2015
Antara Umar dan Khalid
Oleh Hepi Andi Bastoni
Setelah dikalahkah oleh Khalid bin Walid dalam adu gulat, kini Umar bin Khaththab menantangnya lomba pacuan kuda. Sebagai juri sekaligus petaruh, ada Amr bin Ash, Ayasy bin Rabiah, Sofwan bin Umayyah dan Ikrimah bin Abu Jahal serta beberapa pemuda Quraisy lainnya. Saat itu, mereka belum masuk Islam meski Nabi saw telah mendapatkan wahyu.
Pada putaran pertama, Umar bin Khaththab berhasil memacu kudanya lebih cepat sehingga mampu mengalahkan Khalid bin Walid. Amr bin Ash yang dalam putaran pertama mendukung Umar dan bertaruh untuknya, juga ikut memenangkan taruhan.
Namun pada putaran kedua, ternyata Khalid bin Walid berhasil mendahului laju kuda Umar. Ini yang membuat Umar tidak terima. Tampillah Amr bin Ash sebagai penengah. Sebagai juri sekaligus petaruh, Amr berkata, “Wahai Umar, di antara kalian tidak ada yang menang. Pada putaran pertama, engkau bisa mendahulu kuda Khalid, pada putaran kedua engkau yang kalah. Jadi, di antara kalian tidak ada yang menang. Tapi di dua putaran itu saya yang menang!”
“Apa maksudmu?” tanya Umar.
“Ya, pada putaran pertama, saya bertaruh untukmu. Sebab saya lihat kudamu masih kuat dan segar. Lalu engkau menang dan taruhan saya juga menang. Pada putaran kedua, saya bertaruh untuk Khalid karena saya lihat kudamu mulai lemah dan capek. Maka, Khalid menang dan saya juga menang...” ujar Amr bin Ash sambil tertawa.
Ya, begitulah Umar bin Khaththab dan Khalid bin Walid. Dua sosok fenomenal dengan prestasinya masing-masing. Dua sosok yang memiliki banyak kemiripan; postur tubuh yang sama tinggi dan besar, sama-sama berani dan menguasai berbagai kemampuan bela diri. Begitu mirip keduanya, sehingga jika tidak teliti, ketika berbicara kepada Umar disangka berbicara dengan Khalid.
Bagi yang membaca biografi dua tokoh ini, akan makin jelas bahwa persamaan keduanya bukan hanya roman muka dan tinggi badan tapi juga kepribadian dan kekuatan jiwa. Namun di tengah kemiripan itu, keduanya punya karakter berbeda.
Di sinilah kita melihat kecanggihan Nabi saw memetakan potensi anak buahnya. Umar dan Khalid sama-sama berani. Siapa yang menyangkal keberanian Umar? Tapi sepanjang sejarah kita tidak menemukan riwayat Umar diangkat menjadi panglima perang. Bedakan dengan Khalid bin Walid. Belum genap tiga bulan keislamannya, dia sudah diamanahi untuk menjadi Panglima Perang Mu’tah untuk menggantikan tiga panglima yang telah syahid. Selanjutnya, karir Khalid pun berkibar sebagai panglima perang. Hampir semua perang besar melawan orang murtad di era Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalid bin Walid yang menjadi panglima.
Umar dan Khalid sama-sama berani. Tapi keberanian keduanya berbeda. Keberanian Umar lebih bersifat defensif, dan keberanian Khalid bersifat ofensif. Kedua keberanian ini sama-sama dibutuhkan dan saling melengkapi.
Bisa jadi perbedaaan ini muncul karena keduanya dilatari oleh keluarga berbeda. Umar dari Bani Adi, kabilah yang sering dijadikan tempat bertanya dan meminta keadilan. Kabilah ini juga dikenal mempunyai keahlian memutuskan perkara.
Sedangkan Khalid berasal dari Bani Makhzum, kabilah ahli perang dan kekerasan, biasa hidup kaya dan mewah. Di zaman Jahiliyah mereka biasa dipercayakan mengurus pasukan berkuda dan persenjataan.
Latarbelakang dua keluarga inilah yang membedakan Umar dan Khalid. Seperti dituturkan Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Abqariyatu Khalid-nya, Umar lebih cenderung pada sikap hati-hati dan bijaksana. Sedangkan Khalid bersifat mendobrak dan melawan. Umar cenderung bersifat sederhana yang terpuji. Sedangkan Khalid lebih cenderung kepada kesenangan yang tidak terlarang.
Setelah penat dengan urusan kenegaraan, Umar sering menghabiskan heningnya malam lewat tangisan taubat sehingga uraian air mata membekas di kedua pipinya. Sedangkan Khalid, di tengah istirahat perangnya, ia biasa pergi ke tempat yang teduh bersama istri yang ia cintai. Namun keduanya tetap dalam koridor yang tidak terlarang. Umar tidak menjadi laki-laki cengeng yang hilang ketegasannya. Sebaliknya, Khalid juga tidak terlena dengan malam-malamnya bersama istri. Bahkan, ada sebuah ungkapan yang menghentakkan benak kita dalam hal pandangannya terhadap wanita dan jihad. Khalid berkata, “Aku lebih mencintai malam yang dingin lagi penuh kesulitan bersama pasukan Muhajirin daripada malam aku disandingkan dengan pengantin wanita yang kucintai…” ujar Khalid.
Bagaimana pun senangnya Khalid dengan wanita cantik, tapi itu adalah kesenangan orang kuat yang sadar, bukan kesenangan orang lemah yang terlena. Ia ibarat seorang musafir yang beristirahat di pinggir oase untuk mengumpulkan kekuatannya. Bukan kesenangan orang yang menghindar lalu terlena dalam lalainya.
Bahkan, Khalid sangat tidak betah istirahat berlama-lama menanti perang melawan pasukan Persia atau Romawi. Cintanya kepada jihad di atas ibadah lainnya. Qais bin Hazim mendengar Khalid berkata, “Berjihad telah menghalangiku mempelajari Al-Qur’anul Karim.”
Demikianlah Khalid. Ia hanya ingin mengambil kesenangan yang minimal untuk mengumpulkan tenaga guna menghadapi kesulitan dan perang yang maksimal.
Umar dan Khalid meniti karirnya masing-masing. Umar sebagai negarawan sukses, Khalid gemilang sebagai panglima perang. Yang justru unik, keduanya mengakhiri hidup dengan takdir yang berbeda.
Dalam kesedihannya, Khalid wafat di tempat tidur. Di antara ratapnya ia berucap, “Aku mencari tempat kematian di berbagai tempat. Aku telah menghadapi musuh sehingga tak sejengkal pun dalam tubuhku kecuali ada bekas tebasan pedang, tusukan panah, atau tikaman tombak. Tapi sekarang, aku meninggal di tempat tidurku seperti keledai mati….”
Sedangkan Umar, pun meninggal di pembaringannya. Bedanya, Umar meninggal akibat luka parah tusukan senjata Abu Lu’lu’ al-Fairuz. Jelang syahidnya Umar berucap lirih, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kematianku bukan di tangan seorang Muslim…”
Umar dan Khalid sama-sama meninggal di tempat tidurnya. Keduanya menjemput syahid dengan cara berbeda. Ya, keduanya syahid. Dari Sahal bin Abi Umamah bin Hanif dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi saw bersabda,
مَنْ سَأَلَ الله الشَّهَادَةَ مِنْ قَلْبِهِ صَادِقاً بَلَّغَهُ الله مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وإنْ مَاتَ على فِرَاشِهِ
“Barangsiapa yang meminta kepada Allah mati syahid dari hatinya dengan sebenarnya maka Allah akan menyampaikannya kepada kedudukan orang-orang yang mati syahid sekalipun dirinya mati di atas ranjangnya,” (HR Muslim).
Satu lagi kesamaan dua tokoh ini. Keduanya meninggal dalam keadaan sangat sederhana. Seperti dikutip Manshur Abdul Hakim dalam karyanya Khalid bin Walid Saifullah al-Maslul, Juwairiyah berkata dari Nafi’ mengatakan, “Ketika Khalid meninggal dunia, tidak ada harta apa pun yang ia miliki kecuali tempat tidur, budak laki-laki dan senjatanya.”
Umar bin Khaththab juga demikian. Bahkan, kondisi Umar lebih sederhana lagi. Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Abqariyatu Umar-nya menggambarkan, ketika meninggal dunia, untuk melunasi utang-utangnya, rumah Umar bin Khaththab harus dijual beserta seluruh isinya. Oleh pembelinya rumah tersebut diberi nama Darul Qadha’ (Rumah Pelunasan).
Selasa, 14 Juli 2015
Ucapan minal 'aidin wal-faizin
Arti Kata Ketupat
( KUPAT)
Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.
Ngaku Lepat
Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa.
Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khusunya orang tua.
Laku Papat
Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran.
Empat tindakan tersebut adalah:
1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.
Arti Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan
Lebaran
Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.
Luberan
Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah menjelang lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat Islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.
Leburan
Maknanya adalah habis dan melebur.
Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.
Laburan
Berasal dari kata labur atau kapur.
Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.
Kamis, 09 Juli 2015
masih ada langit di atas langit.. dan semuanya Pasti akan berlalu...
👇
"PESAN ALM. BOB SADINO.."
Membawa selusin bodyguard bukan jaminan keamanan. Tapi rendah hati, ramah, dan tidak mencari musuh, itulah kunci keamanan.
Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga yg teratur, itulah kunci hidup sehat.
Rumah mewah bukan jaminan keluarga bahagia. Saling mengasihi, menghormati, dan memaafkan, itulah kunci keluarga bahagia.
Gaji tinggi bukan jaminan kepuasan hidup. Bersyukur, berbagi, dan saling menyayangi, itulah kunci kepuasan hidup.
Kaya raya bukan jaminan hidup terhormat. Tapi jujur, sopan, murah hati, dan menghargai sesama, itulah kunci hidup terhormat.
Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat. Tapi setia kawan, bijaksana, mau menghargai, menerima teman apa adanya dan suka menolong, itulah kunci banyak sahabat.
Kosmetik bukan jaminan kecantikan. Tapi semangat, kasih, ceria, ramah, dan senyuman, itulah kunci kecantikan.
Satpam dan tembok rumah yg kokoh bukan jaminan hidup tenang. Hati yang damai, kasih dan tiada kebencian itulah kunci ketenangan dan rasa aman.
Hidup kita itu sebaiknya ibarat “Bulan & Matahari”—dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai orang atau tidak, ia tetap menerangi. Diterimakasihi atau tidak, ia tetap “berbagi”.
Jika Anda bilang Anda susah, banyak orang yang lebih susah dari Anda. Jika Anda bilang Anda kaya, banyak orang yang lebih kaya dari Anda. Di atas langit, masih ada langit. Suami, istri, anak, jabatan, harta adalah “titipan Sementara”. Itulah kehidupan.
Nikmatilah hidup selama Anda masih memilikinya dan terus belajar untuk bersyukur dengan keadaanmu! Karena Anda tidak akan tahu kapan Sang Pemilik Raga akan datang dan mengatakan pada Anda, “Ini saatnya Pulang!!”—memaksa Anda meninggalkan apa pun yang Anda Cintai, dan Anda Banggakan, serta Sombongkan...
😎😍😘
Rabu, 08 Juli 2015
Sirah Nabawiyah-Kelahiran dan Masa Kecil Muhammad saw (1)
Senin, 06 Juli 2015
KEMATIAN
Inilah di antara tulisan terbaik Syekh Ali Thanthawi Mesir Rahimahullah:
"Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu. Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.
Akan ada banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaan nya untuk ikut menguburkanmu. Barang barangmu akan dikemas, kunci kuncimu, kitab, koper, sepatu dan pakaianmu.
Jika keluargamu setuju barang2 itu akan disedekahkan agar bermnfaat untukmu.
Yakinlah;
dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dg kepergianmu. Ekonomi akan tetap berlangsung! Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain. Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu.
Sedangkan kamu yg akan dihisab dan diperhitungkan dari hartamu!
Kesedihan atasmu ada 3
Orang yg mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan.
Kawan kawanmu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa!
Di rumah ada kesedihan yg mendalam!
Keluargamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun??
Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!
Demikianlah
"Kisahmu telah berakhir di tengah tengah manusia".
Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, Akhirat!!
Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak.
Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta.
Kini hidup yg sesungguhnya telah dimulai.
Pertanyaannya adalah:
Apa persiapanmu untuk kuburmu dan Akhiratmu??
Hakikat ini memerlukan perenungan.
Usahakan dengan sungguh sungguh.
jalankan kewajiban kewajiban,
hal-hal yg disunnahkan,
sedekah rahasia, merahasiakan amal shalih, shalat malam,
Semoga saja engkau selamat.
Selasa, 09 Juni 2015
awas pencuri bulan Ramadhan
🐾 Tv , ini merupakan pencuri yg berbahaya, yg bisa merusak puasa orang orang dam mengurangi pahala mereka berupa film sinetron dan iklan murahan.
🐾 pasar, juga merupakan pencuri spesial dlam menghabiskan uang dan waktu tanpa batas. Maka tentukan belanjaanmu begitu pergi kepasar.
🐾 begadang, pencuri yg mengambil waktu yg palimg berharga, pencuri yg mengambil sholat tahajjud dr seoramg hamba di sepertiga malam terakhir, dan mencuri kesempatan tuk istighfar serta taubat.
🐾 dapur, merupakan pencuri yg banyak mengambil waktu yabg panjang untuk membuat beragam jenis masakan berupa makanan dan minuman, hampir hampir semuanya tidaklah lewat dimulut kecuali sejenak saja.
🐾 hp, sebagian orang hanya sekedar menjawab panggilan masuk, iapun diserang dengan dosa berupa ghibah, namimah, dusta, memuji diri atau orang lain, membeberkan rahasai, berdebat tanpa ilmu, ikut campur urusan orang, dan sebagainya dri kesalahan kesalaham mulut yg banyak yg juga merupakan majlis yg kosong dr dzikir.
🐾 kikir, sedekah akan melindungimu dr neraka, dan sebaik baik sedekah adalh dibulan Ramadhon maka bersedekahlah secara terang terangan atau sembunyi sbunyi.
🐾 majlis yg kosong dr mengingat Allah.
Pencuri ini adalah yg mpersiapkan bagimu penyesalan di hari kiamat -semoga Allah melindungi-
Nabi shallaalhu alaihi wa sallam bersabda:
Tidaklah suatu kaum bermajlis, tidak mengingat Allah pada tidak juga bersholawat kepada Nabi mereka kecuali mereka meninggalkan penyesalan, bila Allah mau maka Allah akan menyiksa mereka, kalau hendah Allah mengampuninya.
Dan "at tirah" adalah penyesalan.
Maka lakukanlah amalan sesuai yg Allah perintahkan
"Ingatlah Allah baik berdiri, duduk atau berbaring"
Adapun pencuri besar adalah FACEBOOK atau WHATSAPP apabila tidak digunakan dengan benar dalam kebaikan dalam menyambut tamu yg berharga ini (Ramadhon)
Aku wasiatkan diriku dan kelalaian untuk bersiap siap menyambut bulan mulai ini; kalaulah anda mendapatinya pada tahun ini, maka belum tentu kamu dapatkan pada tahun yg akan datang.
-Diary IHBS, ust Zainal Abidin, Lc
Kamis, 14 Mei 2015
JAWABAN ALLAH SWT
1)- Ketika kita mengeluh :
“Ah mana mungkin…. : .
”✅Allah menjawab :
“Jika AKU menghendaki, cukup Aku berkata“Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)
2)- Ketika kita mengeluh :
“Wah, letih sekali….
”✅Allah menjawab :
“…dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An- Naba :9)
3)- Ketika kita mengeluh :
“Berat sekali ya, gak sanggup rasanya…
”✅Allah menjawab :
“AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dgn kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)
4)- Ketika kita mengeluh :
“Stress nich, bingung?!
” ✅Allah menjawab :
“Hanya dengan mengingatKu hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra’d :28)
5)- Ketika kita mengeluh :
“Yah, ini mah bakal sia-sia..deh! ” ✅Allah menjawab :
”Siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarahpun, niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al- Zalzalah :7)
6)- Ketika kita mengeluh :
“saya sendirian, gak ada seorgpun yang mau membantu…
”✅ Allah menjawab :
“Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)
7)- Ketika kita mengeluh :
“Sedih sekali rasanya…
”✅Allah menjawab :
“La Tahzan,..Innallaha Ma’ana... Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)
8)- Ketika kita mengeluh :
“Ampun..susah banget ini kerjaan…
”✅Allah menjawab : “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah:6-7).
Semoga semua yg kita lakukan pada hr ini bernilai ibadah...
Semoga hari-hari ini adalah hari yang penuh barokah buat kita... amiiin
Selalu ada hari baru utk saling memaafkan kesalahan yg telah berlalu, Selalu ada hari baru utk perbaikan.
Met berbaik sangka selalu..
Insya Allah.
Note : Copas dari WA
Selasa, 12 Mei 2015
TERLALU ITU TIDAK BAIK
TERLALU ITU TIDAK BAIK
1. Dalam pergaulan hindari kata "SELALU" dan TIDAK PERNAH"
2. Mengendalikan diri untuk memiliki hanya yang kita butuhkan, dan jika lebih dari itu sedekahkan pada orang, Karena makin sedikit yg kita milik maka kita akan lebih bisa menikmati.
3. Kita jangan terlalu dalam segala hal. Terlalu senang, terlalu marah, terlalu sedih dan hal-hal lain, karena bisanya akan
4. Jika kita marah, benci sama orang, cari kebaikan dari orang itu sebanyak kemarahan kita (Sebagai penyeimbang. Karena jam rusak pun menjukan kebenaran 2x dalam sehari, apalagi manusia
5. Sebaliknya saat kita sangat mengagumi seseoarang misalkan karena 5 kelebihan maka berfikir diapun pasti punya kekuarangan yang porsinya mungkin sama, jadi jangan terlalu mengagumi.
Kebahagiaan
Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.
Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri.
Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.
Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.
Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa
- Kayanya
- Tenarnya
- Cantiknya
- Kuasanya
- Sehatnya
- atau sesukses apapun hidupnya.
Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri.. mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal…
“Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka.”
“Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti di belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada .”
Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.
Yang kita butuhkan adalah Hati yang Bersih dan Ikhlas serta Pikiran yang Jernih, maka kita bisa menciptakan rasa “Bahagia” itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun.”
Kebahagiaan itu milik Orang-orang yang dapat Bersyukur
note : di copas dari WA groups
Kisah Rasulullah Mencium Tangan yang Tak Akan Disentuh Api Neraka Selamanya
Kisah Rasulullah Mencium Tangan yang Tak Akan Disentuh Api Neraka Selamanya
Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah Saw baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.
Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.
Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?"
Si tukang batu menjawab, "Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar."
Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,"Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada", 'inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya'.
Para sahabat bertanya :
"Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu apakah dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.”
Mendengar itu Rasul Saw pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.”
(HR Thabrani)
Bekerjalah dgn pekerjaan yang HALAL, maka Allah akan memberkahi
Note : Copas dari WA groups
Senin, 04 Mei 2015
Antara hukuman pancung dan tembak
Hukuman mati dengan cara metode Barat atau dengan tembakan, algojonya banyak, namun senapan yang berisi peluru tajam cuman 1. Itu artinya, yang ditembak cuman 1 organ: jantung saja atau otak saja.
Kalau jantung yang ditembak, otak masih berfungsi sehingga orang yang dieksekusi tidak segera mati.
Kalau otak yg ditembak, jantung masih aktif berdetak, maka tidak segera mati. Di harian Kompas tahun 2005 pernah dibahas bahwa terpidana hukuman mati dengan cara ditembak akan menemui ajalnya 20-30 menit setelah tembakan.
Jangan dikira sakitnya seperti apa! Konon kabarnya, pembantai keluarga dokter di Purwokerto itu matinya sekitar 25 menit setelah dieksekusi regu tembak di Nusa Kambangan.
Sebaliknya, yang cara Islam adalah dengan pancung. Algojonya cuma 1 dengan pedang yang amat sangat tajam. Sekali tebas, kepala lepas. Sekilas mengerikan. Namun ternyata, ketika leher putus, “kabel” penghubung antara otak dan jantung (spinal cord) langsung putus. Ketika hubungan otak-jantung putus, jantung kehilangan kontak dengan otak. Akibatnya, jantung langsung berhenti berdetak. Orang mati seketika, tidak perlu berlama-lama merasakan sakit.
Bahkan didasarkan penelitian oleh Prof. Wilhelm Schulze dan Dr. Hazim dari College of Veterinary Medicine, Hannover University, German, kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang yang dipancung itu tidak merasakan sakit, karena tidak ada saraf sakit yang tersentuh.
Kesimpulannya, syari’at Islam tentang hukuman mati dengan cara dipancung itu scientifically excellent.
Kajian ini hampir selalu ana sampaikan saat tugas khutbah shalat Idul Fithri dan Idul Adha, termasuk saat tugas di KBRI London tahun 2011 (saat saya masih sekolah S3 di UK).
Ustadz Dr. Nanung Danar Dono
Dosen Fakultas Peternakan UGM, pengurus MIUMI Yogyakarta.
note : Copas dari WA group
Senin, 27 April 2015
Karena Ukuran Kita Tak Sama
oleh Salim A. Fillah dalam Inspirasi. 02/04/2012
seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,
“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”
Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.
”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,
“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”
Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.
”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.
“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.
”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”
“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“
“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”
Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,
”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”
‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.
‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.
‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.
Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.
Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.
“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”
Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.
Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.
Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.
“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”
“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”
Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.
Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.
Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.
Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.
Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.
Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.
Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.
Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”
sepenuh cinta,