DEPAN

Sungguh, kadang kejujuran itu terasa sangat menyakitkan, tetapi katakanlah dan luruskanlah saja niatmu

Hisablah dirimu sebelum di hisab Allah dan jangalah menyibukkan diri menghisab apalagi menghisap orang lain

Memang nikmat berbagi dalam kebaikan & kebenaran (modifikasi dari KZ)

Salah satu tugas dalam hidup ini begitu sederhana, hanya bersabar dan besyukur (AFF)

Orang yang melewatkan satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardu yang ia lakukan atau kemuliaan yang ia wariskan atau pujian yang ia hasilkan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan,maka sungguh-sungguh ia telah durhaka pada harinya dan menganiaya diri. (Dr. Yusuf Al-qardhawi)

-----------------------------

http://refleksirifa.blogspot.com/

https://rifateashahihbukhari.blogspot.com

http://www.facebook.com/ridwan.farid.3990

id.linkedin.com/pub/ridwan-farid/6/17b/164

------------------------------------

YM & Gtalk : rifa120

Selasa, 06 Oktober 2015

Sirah Nabawiyah-DAKWAH NABI SAW KEPADA KAUM KERABAT (5)



SIRAH NABAWIAH
Dirangkum oleh Kang Teddy Tedjakusuma dari buku karangan Syeikh Syafiyyur Rahman Mubarakfuri 




DAKWAH NABI SAW KEPADA KAUM KERABAT (5)

Fase pertama dakwah dilakukan oleh Rasulullah saw secara diam-diam.  Hal ini disebabkan Makkah adalah markas bagi agama orang-orang Arab, tempat pelayan-pelayan Ka’bah, pengurus berhala-berhala yang disucikan oleh seluruh Arab, sehingga sulit untuk melakukan perbaikan di sana, dan memerlukan tekad kuat menghadapi berbagai cobaan, musibah dan bencana.  Karena itu dakwah secara diam-diam dilakukan oleh Rasulullah saw agar penduduk Makkah tidak dikejutkan oleh hal-hal yang dapat membangkitkan kemarahannya.
Pada tahap awal, Rasulullah saw menawarkan Islam pada orang-orang yang paling dekat dengannya, keluarganya, dan teman-temannya.  Orang-orang yang pertama kali masuk Islam ini kemudian dikenal dengan istilah as-Sabiqunal Awwalun.  Orang yang pertama beriman adalah istri Nabi yaitu Khadijah binti Khuwailid, disusul oleh budak beliau Zaid bin Haritsah, putra paman beliau Ali bin Abi Thalib (pada saat itu masih kanak-kanak dan hidup di bawah tanggungan Rasulullah saw), dan teman dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq.  Setelah itu Abu Bakar ash-Shiddiq ikut menyebarkan Islam dan atas ajakan beliau masuk Islam pula: Utsman bin Affan, az-Zubair bin Awwan, Abdur Rahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.  Delapan orang itulah yang menjadi pelopor Islam. 
Keseluruhan pengikut awal Islam berjumlah lebih dari empat puluh orang, termasuk Bilal bin Rabah, Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Arqam bil Abil arqam, ubaidah bin al-Harits, dan Fathimah binti al-Khatab (saudara Umar bin Khattab). 
Sejalan dengan masuknya orang-orang tersebut ke dalam pangkuan Islam, ayat-ayat Quran pun turun secara berkelanjutan.  Ayat-ayat dan surat-surat yang turun pada saat itu adalah ayat-ayat yang pendek, memiliki perhentian yang indah, penyampain yang tenang dan sejalan dengan kondisi saat itu yang sensitive. Isi ayat-ayat di masa ini berkisar pada pembersihan jiwa, celaan terhadap jiwa-jiwa yang dikotori oleh noda-noda dunia, dan penggamabaran terhadap surga dan neraka.
Pada masa ini pula shalat diperintahkan, walau tidak sama dengan shalat yang dilakukan setelah peristiwa Isra Mi’raj.  Dikatakan bahwa shalat yang diwajibkan adalah shalat sebelum terbitnya mataahari dan shalat sebelum terbenamnya.  Rasulullah saw melakukan shalat ini bersama para sahabatnya di lorong-lorong bukit agar tidak terlihat oleh kaum musyrikin Quraisy.
Meskipun dilakukan secara diam-diam, ternyata dakwah yang dilakukan Rasulullah saw akhirnya diketahui juga oleh orang-orang Qurasy.  Namun mereka tidak menaruh perhatian terhadapnya.  Mungkin mereka menganggap bahwa Muhammad adalah salah seorang dari para pemeluk agama yang selalu berbicara tentang ketuhanan dan hak-haknya.
Setelah tiga tahun berlalu, turunlah wahyu yang memerintahkan Rasulullah saw berdakwah secara terang-terangan kepada kaumnya.  Ayat yang pertama kali turun memerintahkan dakwah secara terang-terangan adalah firman Alla Ta’ala:
“Dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat”. (asy-Syu’ara. 26: 214)
Surat ini memuat kisah tentang Musa as di awal kenabiannya sampai hijrahnya bersama Bani Israil, dan selamatnya meraka dri kejaran Fir’aun dan bala tentaranya hingga tenggelamnya Fir’aun.  Kisah ini disampaikan kepada Rasulullah saw tatkala beliau diperintahkan menyeru kaumnya ke jalan Allah.  Tujuannya agar beliau dan para sahabatnya memperoleh gambaran tentang hal-hal yang akan mereka hadapi ketika melakukan dakwah secara terang-terangan, seperti pendustaan dan penindasan, dan agar mereka dapat mengetahui secara jelas tentang persoalan mereka sejak memulai dakwah mereka.  Surat ini juga memuat akibat akhir yang akan diperoleh orang-orang yang mendustakan para rasul, seperti kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, kaum Luth, dan penduduk Aikah, selain tambahan kisah Fir’aun dan kaumnya.  Tujuannya agar orang-orang yang melakukan pendustaan mengetahui akibat yang akan mereka jalani, berupa adzab Allah.  Di samping itu, agar orang-orang mukmin mengetahui bahwa kesudahan yang baik itu untuk mereka.
Setelah turunnya ayat di atas Rasulullah saw mengundang Bani Hasyim ke rumahnya.  Mereka pun datang bersama Bani al-Muththalib bin Abdi Manaf, semuanya empat puluh lima orang lelaki.  Abu Lahab, salah seorang paman beliau, yang saat itu hadir berkata, “Hai Muhammad.  Mereka ini adalah paman-pamanmu dan anak-anak dari paman-pamanmu.  Berbicaralah dan janganlah main-main.  Ketahuilah, kaum kerabatmu tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi bangsa Arab.  Aku berhak mencegahmu, cukuplah bagimu perlindungan dari sanak family ayahmu.  Jika kamu tetap berbuat seperti apa yang telah kamu lakukan, mereka akan lebih mudah menyerangmu daripada suku-suku Quraisy lainnya, dan pasti akan dibantu oleh seluruh orang Arab.  Sesungguhnya aku tidak pernah melihat seseorang yang datang membawa sesuatu yang lebih buruk daripada yang kamu bawa.”
Dalam pertemuan itu, Rasulullah saw tidak menjawab sepatah kata pun.  Kemudian beliau mengundang mereka lagi untuk kedua kalinya.  Dalam pertemuan tersebut, beliau berkata:
“Seorang utuasan tidak akan membohongi keluarganya.  Demi Allah yang tidak ada Ilah kecuali Dia, aku adalah Rasulullah, khususnya kepada kalian dan seluruh manusia pada umumnya.  Demi Allah, kalian pasti akan mati sebagaimana kalian tidur, dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun tidur.  Segala perbuatan yang kalian lakukan pasti akan diperhitungkan. Kemudian, tidak ada tempat lain kecuali surga yang kekal dan neraka yang kekal juga selama-lamanya.”
Abu Thalib menyahut, “Dengan senang hati, kami akan membantumu; kami menerima nasihatmu; dan kami pun mempercayai kata-katamu.  Mereka yang berkumpul ini adalah sanak family ayahmu, dan aku hanyalah salah seorang dari mereka.  Hanya saja, aku adalah orang yang paling cepat menyambut keinginanmu.  Jalankan terus apa yang diperintahkan kepadamu.  Demi Allah, aku akan selalu melindungimu, tetapi aku tidak dapat meninggalkan agama Abdul Mutthalib.”
Abu Lahab menyahut, “Demi Allah, itu sikap yang buruk.  Cegahlah dia (Muhammad) sebelum orang lain berbuat terhadap kalian.”  Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, dia akan kami bela selama kami masih hidup.”
 

Sirah Nabawiyah-PERINTAH DAKWAH (3)



SIRAH NABAWIAH
Dirangkum oleh Kang Teddy Tedjakusuma dari buku karangan Syeikh Syafiyyur Rahman Mubarakfuri 



PERINTAH DAKWAH (3)

Beberapa waktu setelah pertemuan malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad saw, Khadijah ra mengajak Rasulullah saw untuk pergi menemui Waraqah bin Naufal, salah seorang anak paman Khadijah, yang memeluk agama Nasrani.  Ia dapat menulis dalam huruf Ibrani, bahkan pernah menulis bagian-bagian dari Injil dalam bahasa Ibrani. Ia seorang yang sudah lanjut usia dan kehilangan penglihatannya.  Rasulullah saw menceritakan apa yang dialaminya di gua Hira’.  Setelah mendengar penuturan Rasulullah saw, Waraqah berkata, “Itu adalah malaikat yang pernah diutus Allah kepada Musa.  Alangkah bahagianya seandainya aku masih muda perkasa!  Alangkah gembiranya seandainya aku masih hidup tatkala kamu diusir oleh kaummu!”
Rasulullah saw bertanya, “Apakah mereka akan mengusir aku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tak seorangpun yang datang membawa seperti yang kamu bawa kecuali diperangi.  Seandainya kelak aku masih hidup dan mengalami hari yang kamu hadapi itu, pasti kamu kubantu sekuat tenagaku.”  Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia.
Setelah wahyu pertama turun, selama beberapa hari Rasulullah saw tidak mendapatkan wahyu.  Terhentinya wahyu ini menimbulkan kesedihan yang mendalam pada diri Rasulullah saw, dan berulang kali menimbulkan keinginan untuk menjatuhkan diri dari puncak gunung.  Setiap kali sampai ke puncak gunung dan hendak menjatuhkan diri dari tempat tersebut, Jibril menampakkan diri kepada beliau dan mengatakan, “Wahai Muhammad, kamu adalah benar-benar Rasulullah!”  Seketika itu, hati beliau menjadi tentram, lalu pulang.  Ketika beliau merasakan kembali masa kekosongan wahyu tersebut, timbul lagi keinginannya untuk melakukan perbuatan yang serupa.  Dan ketika sampai di puncak gunung, Jibril menampakkan diri lagi dan mengatakan kalimat yang serupa.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari jalur Jabir bin Abdillah bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw menceritakan tentang masa kekosongan wahyu, beliau bersabda, “Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit.  Ketika kepala kuangkat, kulihat malaikat yang datang kepadaku di gua Hira’ sedang duduk di kursi antara langit dan bumi.  Aku merasa ketakutan sehingga jatuh ke tanah. Aku segera pulang menemui istriku dan kukatakan kepadanya, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku,’  Kemudian, Allah menurunkan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang berselimut, …. serta jauhilah perbuatan dosa.’  Sejak itu, wahyu diturunkan secara berkelanjutan.
Sebelum kita membahas lebih lanjut kehidupan risalah dan nubuwah (kenabian), kita perlu mengetahui klasifikasi wahyu yang merupakan sumber risalah dan dakwah.  Ketika menyebutkan tentang tingkatan wahyu, Ibnu Qayyim berkata:
1.Mimpi yang benar. 
2.Wahyu yang dibisikkan oleh malaikat ke dalam hati beliau tanpa terlihat oleh beliau
3.Malaikat datang kepada Rasulullah saw dalam wujud seorang lelaki, lalu berbicara kepada beliau sampai beliau memahami apa yang disampaikannya.  Dalam keadaan seperti ini, malaikat tersebut terkadang dilihat oleh para sahabat.
4. Jibril datang kepada beliau seperti bunyi lonceng.  Tingkatan wahyu seperti ini merupakan tingkat yang terberat bagi beliau, sebab Jibril merasuk ke dalam tubuh beliau.  Jika hal itu terjadi ketika beliau sedang mengendarai onta, maka ontanya berlutut karena merasa ditimpa beban yang berat.
5. Rasulullah saw melihat Jibril dalam bentuk aslinya, lalu Jibril mewahyukan kepada beliau apa saja yang dikehendaki oleh Allah untuk disampaikan kepada beliau.
6. Wahyu yang disampaikan secara langsung oleh Allah kepada beliau, ketika beliau berada di atas langit, pada malam Isra Mi’raj, yaitu tentang kewajiban shalat.
7. Firman Allah kepada beliau tanpa perantaraan malaikat , sebagaimana Allah berbicara kepada Musa bin Imran.  Tingkatan seperti ini telah terjdi pada diri Musa berdsarkan nash Al-Quran, dan terjadi pula pada diri Rasulullah saw berdasarkan hadits Isra. 
Wahyu kedua yang diterima Rasulullah saw adalah sebagai berikut:
“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, dan berilah peringatan.  Agungkanlah Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu, tinggalkan perbuatan dosa (menyembah berhala), dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh balasan yang lebih banyak.  Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (Al-Muddatstsir:1-7).
Ayat-ayat tersebut berisi perintah yang secara lahiriah sederhana namun memiliki tujuan yang jauh dan pengaruh yang kuat.
1.       Puncak pemberian peringatan adalah tidak membiarkan seorang pun di antara orang-orang yang berada di alam wujud ini untuk menyalahi keridhaan Allah, yaitu dengan memberikan berbagai peringatan terhadap siksa-siksa-Nya yang mengerikan, sehingga timbul rasa gentar dan kegoncangan dalam hatinya.
2.       Puncak mengagungkan Allah adalah tidak memberikan seorang pun di muka bumi ini untuk berbuat kesombongan, yaitu dengan mematahkan kekuatannya, sehingga tidak ada kesombongan dan kebesaran yang tersisa di muka bumi ini selain kebesaran Allah Ta’ala.
3.       Puncak dari pembersihan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa adalah mencapai pembersihan lahir dan batin serta pembersihan jiwa dari segala jenis noda dan kotoran, secara sempurna.  Sehingga jiwa manusia berada di bawah naungan rahmat Allah, pemeliharaan, pengawasan, petunjuk, dan cahaya-Nya.  Di samping itu, dapat menjadi figure bagi masyarakat di hadapan hati yang menyimpang, sehingga seluruh perhatian dunia terpusat kepadanya.
4.       Puncak tidak memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak adalah tidak menganggap perbuatan dan jerih payahnya sebagai suatu perbuatan yang besar. Tetapi, senantiasa berupaya dengan sungguh-sungguh dalam setiap amal, pengorbanan, kemudian melupakan semua itu.  Yakni, tidak merasa bahwa dirinya telah melakukannya.
5.       Ayat tersebut mengisyaratkan hal-hal yang akan disampaikan selanjutnya yakni adanya gangguan-gangguan orang-orang yang menentang. 
Masa hidup Muhammad saw dapat dibagi menjadi dua fase, masing-masing memiliki karakteristik tersendiri, yaitu:
1.       Fase Mekkah, kira-kira selama tiga belas tahun.
2.       Fase Madinah, kira-kira selama sepuluh tahun.
Fase Mekkah dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
1.       Tahapan dakwah secara rahasia, selama tiga tahun.
2.       Tahapan dakwah secara terang-terangan terhadap penduduk Mekkah, mulai tahun keempat kenabian sampai akhir tahun kesepuluh kenabian.
3.       Tahapan dakwah di luar Mekkah, berlangsung dari tahun kesepuluh kenabian sampai hijrah ke Madinah.

Sirah Nabawiyah-KHADIJAH (2)



SIRAH NABAWIAH

Dirangkum oleh Kang Teddy Tedjakusuma dari buku karangan Syeikh Syafiyyur Rahman Mubarakfuri 


KHADIJAH (2)

Abdul Muththalib kemudian membawa pulang Muhammad saw ke Mekkah.  Sejak itu dipeliharanya dan disayanginya Muhammad saw lebih dari anak-anaknya.  Namun ketika Muhammad saw berusia 8 tahun 2 bulan, Abdul Muththalib meninggal dunia.  Sebelum kematiannya, ia berpesan kepada paman Muhammad saw yaitu adik mendiang ayahnya, yang bernama Abu Thalib, untuk memeliharanya.
Sejak itu Muhammad saw dipelihara dengan sangat baik oleh pamannya Abu Thalib, bahkan pamannya itu mengutamakan Muhammad dibandingkan dengan anak-anaknya sendiri.  Lebih dari 40 tahun Abu Thalib memuliakan dan melindungi beliau.  Demi beliau, Abu Thalib menjalin persahabatan dan melakukan permusuhan dengan orang lain.  Tentang hal ini akan kita bahas nanti (insya Allah).
Banyak peristiwa menarik seputar kehidupan Muhammad saw pada waktu beliau dipelihara oleh pamannya itu, yang menunjukkan tanda-tanda keistimewaan beliau.  Salah satunya adalah ketika pamannya meminta hujan lewat perantaraan beliau.  Suatu waktu kota Mekkah dan sekitarnya dilanda kekeringan karena hujan lama tidak turun.  Orang-orang Quraisy kemudian mendatangi Abu Thalib agar beliau memintakan hujan.  Beliau kemudian keluar dari rumahnya bersama seorang anak, yaitu Muhammad saw, dan menyandarkan anak itu di dinding Ka’bah.  Saat itu tidak ada awan yang menggumpal di langit.  Tetapi, awanpun kemudian datang dari berbagai penjuru, dan lama-lama turunlah hujan lebat.  Lembah-lembah memancarkan air, dan tanah-tanah menjadi subur.  Berkenaan dengan itu Abu Thalib berkata bahwa ia telah meminta hujan melalui pribadi anak tersebut, yaitu Muhammad saw, seorang anak yatim piatu yang tak berharga.
Pada waktu Muhammad saw berusia 12 tahun ia dibawa oleh Abu Thalib untuk berdagang ke Syam (Syria sekarang).  Dalam perjalanan tersebut mereka melewati sebuah tempat bernama Bashra, di mana tinggal seorang pendeta yang dikenal dengan nama Bahira, yang nama aslinya adalah Jarjis.  Bahira kemudian mengundang rombongan Abu Thalib ke rumahnya dan memperlakukannya sebagai tamu.  Ia kemudian berkata kepada Abu Thalib bahwa anak yang dibawanya (yaitu Muhammad saw) adalah pemimpin seluruh alam, dan diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.  Waktu Abu Thalib bertanya apa dasarnya pendeta Bahira berkata demikian, Bahira menjawab bahwa ia telah melihat ketika rombongan tersebut turun dari bukit, seluruh batu dan pohon bersujud.  Batu-batu dan pohon-pohon tersebut tidak akan bersujud kecuali pada seorang nabi.  Atas anjuran Bahira, Abu Thalib tak jadi membawa Muhammad saw ke Syam, dan memulangkan Muhammad saw beserta beberapa pembantunya ke Mekkah, untuk mencegah kalau-kalau ia diperlakukan jahat oleh orang-orang Yahudi di Syam.
Pada waktu Muhammad saw berusia 15 tahun, terjadi sebuah perang bernama perang Fijjar, antara suku Quraisy dan suku Qais Ailan. Perang tersebut disebut perang Fijjar karena melanggar kehormatan tanah suci dan bulan-bulan Haram (yaitu Dzulqa’adah, Dzulhijjah, dan Rajab).  Perang tersebut diikuti oleh Muhammad saw.  Beliau membantu paman-paman beliau untuk mempersiapkan anak-anak panah.  Di awal siang Qais memenangkan pertempuran, namun di sore hari Quraisy-lah yang menang.
Demikianlah Muhammad saw tumbuh di bawah asuhan pamannya Abu Thalib.  Ia tidak memiliki pekerjaan tertentu, namun pernah bekerja sebagai penggembala kambing.  Ketika beliau berusia 25 tahun, beliau pergi ke Syam untuk membawa barang dagangan seorang saudagar wanita Quraisy bernama Khadijah.  Khadijah menawarkan pekerjaan tersebut kepada Muhammad saw setelah mendengar kejujuran dan kemuliaan akhlaknya dari orang-orang sekitar.  Dalam perjalanan ini Muhammad saw ditemani oleh pembantu Khadijah yang bernama Maisarah.   
Sepulang dari Syam, Khadijah melihat keuntungan dan berkah pada harta yang dititipkannya kepada Muhammad saw, dan ia menerima laporan dari Maisarah tentang akhlak dan kejujuran Muhammad saw.  Mendengar penuturan ini dan setelah menilai sendiri kepribadian Muhammad saw, Khadijah berhasrat untuk menikah dengannya.  Ia adalah seorang janda yang terpandang di kalangan suku Quraisy, dan selama ini telah banyak pemuka Quraisy yang melamarnya namun tak pernah dihiraukannya. 

Senin, 28 September 2015

Fadlan Garamatan “Ustadz Sabun” yang Berhasil Mengislamkan Ribuan Orang Papua

http://panjimas.com/inspirasi/2015/09/18/fadlan-garamatan-ustadz-sabun-yang-berhasil-mengislamkan-ribuan-orang-papua/

Fadlan Garamatan “Ustadz Sabun” yang Berhasil Mengislamkan Ribuan Orang Papua


Panjimas.com) – Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI), Kamis (17/7) memberikan penghargaan kepada Ustadz Fadlan Garamatan atas dedikasinya berdakwah dan berhasil mengislamkan ribuan penduduk asli Irian Jaya atau Papua. Pemberian tersebut diserahkan dalam acara resepsi HUT KAHMI Ke-49 di Gedung Ballroom Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jl Senen, Jakarta.
Wartawan panjimas.com sebelumnya berhasil mewancarai terkait perjuangannya dalam mengenalkan Islam di sana. Berikut adalah hasil reportasenya.
Saat ini hijab menjadi trend dikalangan wanita Papua. Hal ini terkait dengan mulai berkembangnya Islam ditanah penghasil tambang terbesar di dunia tersebut. Hampir 60 % penduduk Nuu Waar (nama lain Papua). 147 masjid berdiri kokoh mengkumandangkan keagungan Allah dan menjadi pusat berkembangnya agama Islam.
Awalnya Bernama Nuu Waar bukan Papua
Dalam sejarahnya Islam masuk ke pulau Papua pada abad 12 tepatnya pada tanggal 17 Juli 1214 atas perintah Sultan Iskandar 2. Dulu bernama Nuu Waar yang berarti Negeri yang menyimpan rahasia. Sedangkan agama Nasrani masuk pada tanggal 5 Februari 1855. Pemberian nama Papua sendiri mempunyai arti saudara tertua. Kemudian berganti nama Irian Jaya dan saat pemerintahan Gus Dur balik menjadi Papua.
Perubahan tersebut terjadi bukan secara tiba-tiba namun bertahun-tahun dan mengorbankan harta dan jiwa. Adalah Fadlan Garamatan putra ketiga dari Mahmdud Bin Abu Bakar Ibnu Suar dan Siti Ruqiyah binti Ismail merupakan salah satu dai yang berhasil mengembangkan Islam di tanah Nuu Waar. Berkat perjuangannya itulah cahaya Islam bisa dirasakan oleh penduduk Nuu Waar. Melalui Islam lah penduduk Nuu Waar kini bisa terangkat derajatnya. Jika dulu banyak yang bertelanjang, jarang mandi dan tertinggal dalam segala hal. Kini perlahan mereka berubah menjadi makhluk yang mulia.
Ancaman dan Teror Menjadi Pelecut Dalam Berdakwah
Keberhasilannya mengislamkan masyarakat Nuu Waar tidak semulus yang dibayangkan. Beragam cobaan ancaman diterima oleh Ust Fadlan Garamatan. Salah satunya adalah saat ia diancam oleh salah seorang pendeta yang bernama Alfonso. Bukannya takut dan bersembunyi ataupun lari mendapat ancaman itu Ust Fadlan malah berniat mendatangi rumah pendeta tersebut.
Hampir setiap pagi Ust Fadlan mendatangi rumah pendeta tersebut. Namun saat didatangi pendeta tersebut tak mau menemui dan hanya ditemui oleh istri dan anaknya. Kejadian tersebut berlangsung hingga 2 bulan. Dan di hari pertama bulan ketiga ia mendapat kabar bahwa pendeta Alfonso masuk rumah sakit ia pun akhirnya mendatangi rumah sakit tersebut dengan membawakan parcel buah.
Usai dijenguk Ust Fadlan pun mulai mengenalkan Islam hingga disuatu hari pendeta Alfonso dan seluruh keluarganya menyatakan diri untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Melihat kejadian tersebut para misionaris kebakaran jenggot dan melaporkan ke aparat kepolisian hingga Ust Fadlan akhirnya ditahan 3 bulan.
Keluar dari tahanan Ust Fadlan kembali berdakwah kali ini menuju Kampung Gayem. Sampai ditempat tersebut salah satu kakinya ditombak oleh kepala suku dan tepat mengenai betisnya. Iapun harus masuk rumah sakit selama beberapa minggu . Usai sembuh ia melanjutkan dakwahnya lagi hingga akhirnya kepala suku yang menombak kakinya masuk Islam dan ia akhirnya dilaporkan ke kepolisian dan ditahan 6 bulan. Jeruji besi tak membuatnya luntur dalam berdakwah didaerah.
Mendapat Julukan Ustadz “Sabun”
Yang menarik dakwah pertama yang dilakukan adalah dengan mengajari mandi menggunakan air bersih dan sabun serta sampo.
“Perlu diketahui orang Papua banyak yang bertelanjang dan hanya menggukan koteka saja karena mereka diminta oleh misionaris” ujarnya kepada reporter panjimas.com beberapa waktu yang lalu.
Tak hanya itu orang Papua tidak bisa mandi dan hanya diajari mandi menggunakan minyak babi oleh para pendeta gereja. Yang lebih memprihatinkan jika para wanita melahirkan mereka melahirkan dibawah pohon seperti hewan. Dan memotong tali plasenta menggunakan batu. Anak-anak mereka hanya boleh minum susu sebelah kiri saja. Karena payudara sebelah kanan harus digunakan untuk menyusui anak-anak babi.
Sabun dan sampo adalah modal awal yang digunakan untuk mengajarkan Islam. Hal itu dilakukan karena mayoritas penduduk Papua tidak pernah mandi. Keadaan demikian terjadi karena mereka dipengaruhi oleh misionaris gereja sehingga mereka hanya memakai koteka (telanjang) dan jika mau mandi harus menggunakan minyak babi. Misionaris mempengaruhi bahwa cara ini untuk mempertahankan tradisi.
“Saat mengajari mandi waktu dhuhur tiba lantas kami minta ijin untuk menunaikan sholat. Sholat dilakukan di atas panggung tidak bisa di tanah. Sebab kalau ditanah sering pakai oleh babi dan anjing.“ ujarnya.
Usai ust Fadlan melakukan sholat kepala suku terlihat penasaran. Setiap gerakan kepala suku menanyakan apa maksudnya. Dengan cerdas dan bijak dijelaskan dengan logika yang bisa diterima oleh orang Papua.
Alhamdulillah dengan ijin Allah beberapa kepala suku lantas berunding dan akhirnya mereka semua memutuskan untuk masuk Islam. “Hari ini kita bahagia kita senang anak ini telah mengajarkan agama yang benar. Dan kita akan mengikutinya“ teriak kepala suku diatas panggung menggunakan bahasa Wamena
Mendengar penjelasan tersebut Ust Fadlan yang menjadi pengurus MIUMI dengan jabatan Paku Bumi (Pasukan Khusus Bela Umat Islam) beserta rombongan melakukan sujud sukur. Akhirnya 3712 orang dituntun pelan-pelan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Bersama Ust Fadlan Garamatan dengan pelan Islam disampaikan dipulau yang kaya akan hasil tambang tersebut. Berjalan digelap hutan belantara adalah hal lumrah yang dijalankan oleh para dai pedalaman tersebut. Mandi atau thoharoh merupakan metode dakwah awal yang dilakukan sebelum masyarakat Papua dikenalkan apa itu Islam. Strategi itulah yang kadang ia mendapat julukan sebagai Ustadz sabun.
Selama 37 tahun lebih ustadz yang berasal dari Fak-fak tersebut mendedikasikan jiwa dan hartanya untuk mengislamkan masyarakat Nuu War. Karena wajahnya sudah dikenal maka rombongan Ust Fadlan tidak mengunakan pesawat dalam berdakwah. Selama 12 hari berjalan keluar masuk hutan akhirnya sampai di tempat yang dituju. 3 bulan dihabiskan dalam mengenalkan Islam didaerah tersebut. Hanya satu orang yang berhasil diIslamkan.
Minimnya dana tak membuat ust Fadlan kendor. Ia pergi ke beberapa tempat di Indonesia untuk menyaikan perkembangan Islam di Nuu Waar. Dengan cara itualah ribuan pakaian pantas pakai peralatan mandi bisa didapatkan. Dan dakwah kembalil dilakukan. Tak semua orang mampu mengikuti model gerakan dakwah yang dilakukan oleh Ust Fadlan dan kawan-kawanya. Ada sebuah kisah menarik saat Ust Fadlan usai berkunjung disebuah Perguruan Tinggi Islam di Jawa. Ia berkenalan dengan salah seorang Ustadz dan diajaklah ustadz tersebut ke Papua.
Mulai dari Nabire perjalanan ke pedalaman dilakukan. Saat baru satu hari ustadz tersebut bertanya “ ustadz Fadlan kapan sampainya ?“ lantas dijawab “belum“ begitu pula hari kedua. Dihari kelima Ustadz tersebut lantas memaki-maki ustadz Fadlan.
“Kalau saya tahu dakwah seperti ini saya tidak mau ikut. Tolong pulangkan saya ke kota dan saya akan kembali ke Jawa Timur“
Ustadz Fadlad pun menjawab “Antum tidak pantas menjadi umat Muhammad, antum tidak pantas memeluk agama Islam. Coba tengok 1400 silam seorang Muhammad berdakwah dengan sendirian. Sekarang anda berdakwah dengan saudara Islam namun anda ketakutan. Silahkan anda pulang tapi kami tak mau mengantar”
Mendengar penjelasan tersebut, Alhamdulillah lantas ustadz dari Jawa Timur itu lantas mau bergabung kembali untuk melakukan dakwah.
Berkat kesabaran dan kistiqomahan Ust Fadlan ribuan penduduk Nuu Waar (Papua) berhasil ia Islamkan berikut pendeta. Hingga disuatu saat beberapa kepala Suku pun sempat diundang ke Istana Negara yang saat itu Presidennta Suharto dan diberangkatkan naik haji ke tanah suci. Cita-citanya saat ini adalah ingin memiliki sebuah pesawat syariah. Harapanya dengan pesawat tersebut dakwahnya bisa lebih menjangkau daerah-daerah di propinsi Indonesia paling timur tersebut. Selain itu ia juga ingin mendirikan perkampungan syariah. Saat ini sudah berhasil memiliki 200 hektar. Kedepan wilayah tersebut akan dibangun segala kebutuhan administrasi negara seperti kantor keluarahan, puskesmas, kecamatan yang dalam pelaksanaannya menggunakan sistem syariah. Selain itu saat ini sedang dibangun Masjid yang sangat besar di Jaya Pura yang rencananya akan selesai dibangun pada tahun 2016. Masjid tersebut akan diberi nama The Jessus bin Maryam

Minggu, 27 September 2015

Belajar sabar dari orang Japan "ORANG JEPANG NAIK HAJI"

Belajar sabar dari orang Japan
"ORANG JEPANG NAIK HAJI"

“Subarashi..! Subarashi..!” atau “Luar Biasa.! Luar Bias.!”, itulah yang ber-ulangkali diucapkan oleh Omar-san, orang Jepang dalam kloter haji kami.

Kalimat itu diucapkannya saat melihat Ka’bah.
Bersama dengan Omar-san, ada 10 orang Jepang lain yang ikut haji tahun ini dari kloter haji embarkasi Jepang.

Bagi Omar-san, yang baru memeluk Islam 3 tahun lalu, ini adalah kali pertamanya naik haji. Ia begitu kagum dan terkesima dengan masif-nya jumlah jamaah haji dari berbagai penjuru dunia yang datang saat bersamaan dan melaku-kan ritual haji yang sama.

Ada satu kekuatan besar yang mampu membawa berjuta-juta orang secara sukarela datang ke tanah suci. Hal itulah yang membuatnya terpana di depan Ka’bah.

Berangkat haji bersama orang Jepang menarik. Bagaimana tidak, selama tinggal di Jepang, saya jarang melihat orang Jepang yang beragama Islam (ataupun beragama lainnya, Kristen atau Yahudi). Kebanyakan tidak memilih agama tertentu, mereka kebanyakan menganut ajaran Shinto yang lebih bersifat budaya ketimbang agama.

Sehari-hari, sebenarnya orang Jepang sudah berperilaku lebih dari orang beragama. Mereka sangat santun, sabar, bersih, tekun, disiplin, dan tertib dalam ber-masyarakat. Semua ajaran agama yang menganjur-kan kebaikan dan perilaku terpuji telah mereka terapkan tanpa harus memeluk suatu agama tertentu. Hal ini bisa di-lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Agama, datang ke dunia untuk memperbaiki akhlak, atau perilaku manusia. Sayapun bertanya pada Omar-san, apabila akhlak di masyarakat sudah baik, masih perlukah orang Jepang memeluk agama.
Menurutnya, Jepang memang sebuah masyarakat yang tertata baik dan aplikatif dari ajaran "agama-nya"..

Namun pada ujungnya, manusia tetap membutuh-kan tambatan hati. Sebuah oase tempat mengadu dalam keadaan sendiri, baik suka maupun duka. Sebuah tautan kala sedang dirundung beragam masalah dan tekanan dunia.

Tanpa agama, berbagai pelarian dicari oleh orang Jepang untuk mencari ketenangan hati. Jadi., menurut Omar san, orang Jepang masih memerlukan agama.

Hal itulah yang me-latarbelakangi Omar-san untuk memeluk agama. Ia mengatakan bahwa setelah beragama, ia menemukan ketenangan hati dan kedamaian jiwa. Meski demikian, banyak orang yang bertanya padanya, tidakkah sulit menjadi Islam di Jepang.

Permasalahan bagi orang Jepang dalam memeluk Islam bukan pada ideologi, namun pada urusan praktikalitas ritual.

Menjalankan ibadah sholat sebanyak 5 kali sehari, puasa sebulan, dan melaksanakan haji, adalah aktivitas yang sangat sulit dalam lingkungan orang Jepang.

Bangsa Jepang adalah pekerja keras. Bekerja di perusahaan Jepang misalnya, sulit mendapat dispensasi ijin sholat pada waktunya, apalagi cuti ibadah haji. Nyaris mustahil untuk dikabulkan. Belum lagi soal pilihan makanan halal yang amat jarang di Jepang.

Namun berbeda dengan barat yang memiliki prejudice tentang Islam, di Jepang pandangan masyarakat tentang Islam tidak seburuk di barat. Bagi orang Jepang, agama apa saja dipandang baik, karena ajaran setiap agama adalah mengarah pada kebaikan. Oleh karena itu, Islam lebih gampang diterima banyak orang Jepang.

Omar-san sendiri beruntung. Ia adalah Presiden Direktur (Sachoo) sebuah perusahaan konstruksi milik sendiri. Perusahaannya tergolong besar di daerah Kasugai, Aichi-Ken, di sekitar kota Nagoya. Jadi., ia bisa mengatur praktik ritual agama, termasuk saat ia memutuskan naik haji bersama istrinya, yang juga orang Jepang.

Selain Omar-san ada Saif Takehito, diplomat Jepang di Kedutaan Besar Jepang di Dubai. Jago bahasa Arab dan ahli membaca Al Qur’an (saya saja sampai minder mendengar ia membaca Qur’an).
Sementara yang lain-nya Muhammad Syarief seorang wirausaha tinggal di Tokyo.

Karakter dan kultur dari orang Jepang yang baik dan santun, tercermin saat menjalankan ibadah haji. Dalam kondisi apapun, mereka tetap diam dan sabar. Persis saat mereka menghadapi bencana alam Maret lalu.

Tekanan terbesar dari ibadah haji adalah soal kesabaran. Mulai dari kedatangan di Arab, prosesi ibadah, aktifitas sehari-hari, hingga kembali ke Jepang, ujian kesabaran silih berganti.

Banyak dari kita yang kadang lepas kontrol, lalu marah-marah dan malah beradu mulut dengan jamaah lain. Tapi saya melihat para jamaah haji dari Jepang memiliki kesabaran yang tinggi. Padahal mereka dihadapkan pada kondisi yang bertolak belakang dengan keadaan negaranya yang tertib dan teratur.

Suatu malam di Mina, terjadi kekacauan di maktab kami, saat kembali dari melempar jumrah, tenda kami dipindahkan pengelola. Akibatnya, barang-barang semua tercecer, bahkan ada yang kehilangan.
Beberapa jamaah haji dari negara lain ada yang marah-marah dan menyalahkan panitia karena tidak menjaga barangnya dan bahkan sampai ingin menuntut ganti rugi.

Masya Allah!
Mereka sampai harus ditenangkan oleh semua yang ada di tenda, “Sabar haji. Sabar.Istighfaar.This is Hajj...”. Baru-lah kemudian mereka me-ngucapkan istighfar dan meminta maaf karena menimbulkan kekacauan di tenda.

Sementara itu saya melihat Muhammad Syarief kehilangan sleeping bag-nya hanya celingak celinguk tapi diam saja tanpa protes dan mengeluh. Ia malah menggelar handuk dan tidur langsung di karpet dalam diam. Simpati jamaah di tenda kami-pun diarahkan pada dirinya. Kamipun meminjamkan-nya sleeping bag, memberinya obat dan makanan, serta menawarkan lokasi tidur yang nyaman. Semua jamaah simpati pada kesantunan orang Jepang ini.

Hal serupa saya juga perhatikan dari diri Saif Takehito. Suatu malam kita harus menunggu di Arafah hingga menjelang tengah malam. Saat itu ada kecelakaan bis sehingga semua jalan menuju Muzdalifah di-tutup. Akibatnya bis rombongan kita tertunda keberangkatannya ke Muzdalifah. Banyak jamaah di kelompok kami yang beradu mulut dan berdebat. Mereka merasa harus tiba di Muzdalifah sebelum tengah malam dan melakukan sholat dua rakaat, sesuai sunah Nabi. Pimpinan rombongan mengatakan bahwa dalam kondisi darurat, sholat bisa dilaksanakan di Arafah. Tapi banyak jamaah yang tidak terima, perdebatanpun terjadi bahkan cenderung memanas.

Saif Takehito saya lihat hanya duduk saja di bawah pohon sambil berulangkali melafazkan nama-nama Allah (berdzikir).

Saat saya tanya bagaimana pendapatnya, Saif berkata yang terjadi di luar kehendak manusia, kita tak bisa berbuat apa. Semua kehendak Allah. Jadi janganlah kita saling berbantahan, kita harus bersabar dan ikuti perintah pimpinan kita.
Masya Allah, jadi malu oleh ucapan dari orang Jepang yang notabene baru memeluk Islam.

Meski orang Jepang dihadapkan pada suasana yang jauh berbeda dengan negerinya, mereka ternyata bisa memahami dan tetap sabar. Mereka tidak mengeluh dan menyalah-kan keadaan.
Hal tersebut memberi saya sebuah kesadaran, bahwa keber-agama-an bukan semata soal pengetahuan. Akhlak dan perilaku baik, terbentuk bukan saja dari pengetahuan, tapi lebih pada kebiasaan.

Orang Jepang sejak kecil sudah dibiasakan dan di-didik berbuat baik, sabar, dan memerhatikan kepentingan orang lain.

Di sekolah, di rumah, di masyarakat, ajaran dan yang dilihat sama. Sementara banyak orang beragama yang hanya diajarkan dan diminta menghafalkan cara berbuat baik dan sabar.

Itulah sebabnya dulu Nabi Muhammad Saw senantiasa berkata, “Biasakanlah berbuat baik., biasakanlah berbuat baik” Bukan menghafal perbuatan baik, tapi membiasakan berbuat baik. Tentu tujuan-nya agar kita menjadi orang baik, yang sebaik-baiknya.

Semoga bermanfaat.🌸

Note :
Hasil Copas dari WA Groups