DEPAN

Sungguh, kadang kejujuran itu terasa sangat menyakitkan, tetapi katakanlah dan luruskanlah saja niatmu

Hisablah dirimu sebelum di hisab Allah dan jangalah menyibukkan diri menghisab apalagi menghisap orang lain

Memang nikmat berbagi dalam kebaikan & kebenaran (modifikasi dari KZ)

Salah satu tugas dalam hidup ini begitu sederhana, hanya bersabar dan besyukur (AFF)

Orang yang melewatkan satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardu yang ia lakukan atau kemuliaan yang ia wariskan atau pujian yang ia hasilkan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan,maka sungguh-sungguh ia telah durhaka pada harinya dan menganiaya diri. (Dr. Yusuf Al-qardhawi)

-----------------------------

http://refleksirifa.blogspot.com/

https://rifateashahihbukhari.blogspot.com

http://www.facebook.com/ridwan.farid.3990

id.linkedin.com/pub/ridwan-farid/6/17b/164

------------------------------------

YM & Gtalk : rifa120

Selasa, 04 Agustus 2015

Mengajarkan anak Cerdas Finansial

Mengajarkan anak Cerdas Finansial


KONSEP-KONSEP YANG HARUS DITANAMAKAN

1. Uang itu harus dicari bukan diminta dan dapat dengan mudah

2. Untuk mencari uang harus bekerja (berusaha) dan harus dengan  cara halal supaya berkah

3. Ajarkan membedakan atara keinginan dan kebutuhan
- beli saat dibutuhan dan memang penting dan beli saat yang tepat
-  merubah konsep PD tidak berdasarkan meteri yg dimiliki tapi berdasarkan presasi dan berbagi
-  barang murah (promo, discount dsb)  bukan berarti kita harus membeli

4. Merencanakan kebutuhan
ex :Beli buku tulis, seragam, dkk,
- merasakan efek jika perencanaan tidak baik, contoh buku habis tidak bilang, maka "hukumannya" nyatat di tempat lain dulu sebelum beli

5. Mulai mengajarkan mencatat perecanaan dan Pengeluaran (bisa mulai dari SMP)
- Dicatat atara perencanaan dan implementasi (Plan vs Actual)

6. Belajar berinvestasi  untuk kebutuhan dirinya
- contoh saat investasi buat pendidikan. si anak tau,
- buka tabungan atas nama anak untuk kebutuhan jangka panjang atau  menengah (Contoh untuk beli sepeda, dsb)

7. Ajarkan uang sebagai alat bukan tujuan
Bikin tujuan dan jadikan uang yang direncakan untuk jadi alat.

PRAKTEK
1. Sejak Kecil diajarkan membeli dan memilih barang dengan pertimbangan
2. Mulai kelas 4 atau 5 SD, mulai berikan uang saku mingguan (untuk kebutuhan  mingguan) dan memberikan dia mengeluarkan sesuai kebutuhan selama 1 mgg
3. Mulai kelas 6 atau SMP sudah mulai memberikan uang saku Bulanan berdasarkan perencanaa

NOTE
- jangan pernah berfikir membicarakan uang itu tabu dan materialisme
- ajarkan pengelolaan sejak dini
- uang itu di tangan bukan di hati

note : Hasil catatan dari acaa Radio smart FM dalam acara Smart Financial

Senin, 27 Juli 2015

MENGAPA PARA GURU DI AUSTRALIA LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA

MENGAPA PARA GURU DI AUSTRALIA LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA

Seorang guru di Australia pernah berkata kepada saya
“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”
“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?”
Saya mengekspresikan keheranan saya, karena yang terjadi di negara kita kan justru sebaliknya.

Inilah jawabanya;
1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka akan menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”
”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” jawab guru kebangsaan Australia itu.

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..

4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.

5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang dipertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.

4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.

5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Yuk kita ajari anak/cucu kita untuk mengan[truncated by WhatsApp]

Minggu, 26 Juli 2015

Kewajiban Suami dan Istri



Dicopas dari Email Wildi Khalid KEI

Rasulullah SAW bersabda, Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya),(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).

Percakapan ringan sore hari…….
Di waktu sore hari…ku dapati Ibu sedang sibuk memasak di dapur.
“Ibu masak apa? Bisa ku bantu?”
“Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan Bapak” sahutnya.
“Alhamdulillah.. mantab pasti.. Eh Bu.. calon istriku kayaknya dia tidak bisa masak loh…”
“Iya terus kenapa..?” Sahut Ibu.
“Ya tidak kenapa-kenapa sih Bu.. hanya cerita saja, biar ibu tak kecewa, hehehe”..
“Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban wanita?
”Aku menatap Ibu dengan tak paham.
Lalu beliau melanjutkan: “Ketahuilah Nak, itu semua adalah kewajiban lelaki. Kewajiban kamu nanti kalau sudah beristri,” katanya sambil menyentil hidungku.
“Lho, bukankah Ibu setiap hari melakukannya?”Aku masih tak paham juga.
“Kewajiban istri adalah taat dan mencari ridho suami.” kata Ibu.
“Karena bapakmu mungkin tidak bisa mengurusi rumah, maka Ibu bantu mengurusi semuanya. Bukan atas nama kewajiban, tetapi sebagai wujud cinta dan juga wujud istri yang mencari ridho suaminya…..”Saya makin bingung Bu.
“Baik, anandaku sayang. Ini ilmu buat kamu yang mau menikah.
”Beliau berbalik menatap mataku. “Menurutmu, pengertian nafkah itu seperti apa? Bukankah kewajiban lelaki untuk menafkahi istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan?” tanya ibu.
“Iya tentu saja Bu..”“Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban suami. Makanan adalah nafkah. Maka kalau masih berupa beras, itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban suami. Lalu menyiapkan rumah tinggal adalah kewajiban suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban suami.
”Mataku membelalak mendengar uraian Bundaku cerdas kebanggaanku ini.“Waaaaah.. sampai segitunya Bu..?
Lalu jika itu semua kewajiban Suami. Kenapa Ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Bapak sekalipun?”
“Karena Ibu juga seorang istri yang mencari ridho dari suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena ibu mencintai ayahmu, mana mungkin ibu tega menyuruh ayahmu melakukan semuanya. Jika ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk Ibu.
Dari Abdullah bin Salam ra, Rasullullah SAW. Bersabda :
“ Sebaik-baik istri yaitu yang menyenangkanmu ketika kamu lihat, taat kepadamu ketika kamu suruh, menjaga dirinya dan hartamu ketika kamu pergi .“ ( HR. Thabrani )
”Aku hanya diam terpesona.
“Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam menumbuk tepung? Tapi Nabi tidak memberinya.
Atau pernah dengar juga saat Umar bin Khatab diomeli istrinya? Umar diam saja karena beliau tahu betul bahwa wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam-macam yang sebenarnya itu bukanlah tugas si istri.”
“Iya Buu…”Aku mulai paham, “Jadi laki-laki selama ini salah sangka ya Bu, seharusnya setiap lelaki berterimakasih pada istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah Istri.”Ibuku tersenyum.
“Eh... Pertanyaanku lagi Bu, kenapa ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban Ibu?”
“Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita, nak. Istri menuntut suami, atau sebaliknya. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mau sama mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk berusaha melakukan yang terbaik satu sama lain. Yang wanita sebaik mungkin membantu suaminya. Yang lelaki sebaik mungkin membantu istrinya. Toh impiannya rumah tangga sampai surga”…
“Masya Allah…. eeh kalo calon istriku tahu hal ini lalu dia jadi malas ngapa-ngapain, gimana Bu?”
“Wanita beragama yang baik tentu tahu bahwa ia harus mencari keridhoan Suaminya.Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang lelaki beragama yang baik tentu juga tahu bahwa istrinya telah banyak membantu. Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya.”

Dari Abu Sa’id ra, Nabi SAW. Bersabda : “ Sesungguhnya seorang suami melihat istrinya ( Dengan kasih sayang ) dan istrinya pun melihatnya ( Dengan kasih sayang pula ), Maka Allah melihat
keduanya dengan pandangan kasih sayang, Dan bila suami
memegang telapak tangan istrinya, maka dosa-dosa mereka keluar
dari celah jari-jari tangan mereka.” ( HR. Rafi’I )

Kamis, 23 Juli 2015

Antara Umar dan Khalid

Antara Umar dan Khalid
Oleh Hepi Andi Bastoni

Setelah dikalahkah oleh Khalid bin Walid dalam adu gulat, kini Umar bin Khaththab menantangnya lomba pacuan kuda. Sebagai juri sekaligus petaruh, ada Amr bin Ash, Ayasy bin Rabiah, Sofwan bin Umayyah dan Ikrimah bin Abu Jahal serta beberapa pemuda Quraisy lainnya. Saat itu, mereka belum masuk Islam meski Nabi saw telah mendapatkan wahyu.
Pada putaran pertama, Umar bin Khaththab berhasil memacu kudanya lebih cepat sehingga mampu mengalahkan Khalid bin Walid. Amr bin Ash yang dalam putaran pertama mendukung Umar dan bertaruh untuknya, juga ikut memenangkan taruhan.
Namun pada putaran kedua, ternyata Khalid bin Walid berhasil mendahului laju kuda Umar. Ini yang membuat Umar tidak terima. Tampillah Amr bin Ash sebagai penengah. Sebagai juri sekaligus petaruh, Amr berkata, “Wahai Umar, di antara kalian tidak ada yang menang. Pada putaran pertama, engkau bisa mendahulu kuda Khalid, pada putaran kedua engkau yang kalah. Jadi, di antara kalian tidak ada yang menang. Tapi di dua putaran itu saya yang menang!”
“Apa maksudmu?” tanya Umar.
“Ya, pada putaran pertama, saya bertaruh untukmu. Sebab saya lihat kudamu masih kuat dan segar. Lalu engkau menang dan taruhan saya juga menang. Pada putaran kedua, saya bertaruh untuk Khalid karena saya lihat kudamu mulai lemah dan capek. Maka, Khalid menang dan saya juga menang...” ujar Amr bin Ash sambil tertawa.
Ya, begitulah Umar bin Khaththab dan Khalid bin Walid.  Dua sosok fenomenal dengan prestasinya masing-masing. Dua sosok yang memiliki banyak kemiripan; postur tubuh yang sama tinggi dan besar, sama-sama berani dan menguasai berbagai kemampuan bela diri. Begitu mirip keduanya, sehingga jika tidak teliti, ketika berbicara kepada Umar disangka berbicara dengan Khalid.

Bagi yang membaca biografi dua tokoh ini, akan makin jelas bahwa persamaan keduanya bukan hanya roman muka dan tinggi badan tapi juga kepribadian dan kekuatan jiwa. Namun  di tengah kemiripan itu, keduanya punya karakter berbeda.

Di sinilah kita melihat kecanggihan Nabi saw memetakan potensi anak buahnya. Umar dan Khalid sama-sama berani. Siapa yang menyangkal keberanian Umar? Tapi sepanjang sejarah kita tidak menemukan riwayat Umar diangkat menjadi panglima perang. Bedakan dengan Khalid bin Walid. Belum genap tiga bulan keislamannya, dia sudah diamanahi untuk menjadi Panglima Perang Mu’tah untuk menggantikan tiga panglima yang telah syahid. Selanjutnya, karir Khalid pun berkibar sebagai panglima perang. Hampir semua perang besar melawan orang murtad di era Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalid bin Walid yang menjadi panglima.

Umar dan Khalid sama-sama berani. Tapi keberanian keduanya berbeda. Keberanian Umar lebih bersifat defensif, dan keberanian Khalid bersifat ofensif. Kedua keberanian ini sama-sama dibutuhkan dan saling melengkapi.

Bisa jadi perbedaaan ini muncul karena keduanya dilatari oleh keluarga berbeda. Umar dari Bani Adi, kabilah yang sering dijadikan  tempat  bertanya dan meminta keadilan. Kabilah ini juga dikenal mempunyai keahlian memutuskan perkara.

Sedangkan Khalid berasal dari Bani Makhzum, kabilah ahli perang dan kekerasan, biasa hidup kaya dan mewah. Di zaman Jahiliyah mereka biasa dipercayakan mengurus pasukan berkuda dan persenjataan.

Latarbelakang dua keluarga inilah yang membedakan Umar dan Khalid. Seperti dituturkan Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Abqariyatu Khalid-nya, Umar lebih cenderung pada sikap hati-hati dan bijaksana. Sedangkan Khalid bersifat mendobrak dan melawan. Umar cenderung bersifat sederhana yang terpuji. Sedangkan Khalid lebih cenderung kepada kesenangan yang tidak terlarang.

Setelah penat dengan urusan kenegaraan, Umar sering menghabiskan heningnya malam lewat tangisan taubat sehingga uraian air mata membekas di kedua pipinya. Sedangkan Khalid, di tengah istirahat perangnya, ia biasa pergi ke tempat yang teduh bersama istri yang ia cintai. Namun keduanya tetap dalam koridor yang tidak terlarang. Umar tidak menjadi laki-laki cengeng yang hilang ketegasannya. Sebaliknya, Khalid juga tidak terlena dengan malam-malamnya bersama istri. Bahkan, ada sebuah ungkapan yang menghentakkan benak kita dalam hal pandangannya terhadap wanita dan jihad. Khalid berkata, “Aku lebih mencintai malam yang dingin lagi penuh kesulitan bersama pasukan Muhajirin daripada malam aku disandingkan dengan pengantin wanita yang kucintai…” ujar Khalid.

Bagaimana pun senangnya Khalid dengan wanita cantik, tapi itu adalah kesenangan orang kuat yang sadar, bukan kesenangan orang lemah yang terlena. Ia ibarat seorang musafir yang beristirahat di pinggir oase untuk mengumpulkan kekuatannya. Bukan kesenangan orang yang menghindar lalu terlena dalam lalainya.

Bahkan, Khalid sangat tidak betah istirahat berlama-lama menanti perang melawan pasukan Persia atau Romawi. Cintanya kepada jihad di atas ibadah lainnya. Qais bin Hazim mendengar Khalid berkata, “Berjihad telah menghalangiku mempelajari Al-Qur’anul Karim.”
Demikianlah Khalid. Ia hanya ingin mengambil kesenangan yang minimal untuk mengumpulkan tenaga guna menghadapi kesulitan dan perang yang maksimal.

Umar dan Khalid meniti karirnya masing-masing. Umar sebagai negarawan sukses, Khalid gemilang sebagai panglima perang. Yang justru unik, keduanya mengakhiri hidup dengan takdir yang berbeda.

Dalam kesedihannya, Khalid wafat di tempat tidur. Di antara ratapnya ia berucap, “Aku mencari tempat kematian di berbagai tempat. Aku telah menghadapi musuh sehingga tak sejengkal pun dalam tubuhku kecuali ada bekas tebasan pedang, tusukan panah, atau tikaman tombak. Tapi sekarang, aku meninggal di tempat tidurku seperti keledai mati….”

Sedangkan Umar, pun meninggal di pembaringannya. Bedanya, Umar meninggal akibat luka parah tusukan senjata Abu Lu’lu’ al-Fairuz. Jelang syahidnya Umar berucap lirih, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kematianku bukan di tangan seorang Muslim…”

Umar dan Khalid sama-sama meninggal di tempat tidurnya. Keduanya menjemput syahid dengan cara berbeda.  Ya, keduanya syahid. Dari Sahal bin Abi Umamah bin Hanif dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi saw bersabda,
مَنْ سَأَلَ الله الشَّهَادَةَ مِنْ قَلْبِهِ صَادِقاً بَلَّغَهُ الله مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وإنْ مَاتَ على فِرَاشِهِ
“Barangsiapa yang meminta kepada Allah mati syahid dari hatinya dengan sebenarnya maka Allah akan menyampaikannya kepada kedudukan orang-orang yang mati syahid sekalipun dirinya mati di atas ranjangnya,” (HR Muslim).
Satu lagi kesamaan dua tokoh ini. Keduanya meninggal dalam keadaan sangat sederhana. Seperti dikutip Manshur Abdul Hakim dalam karyanya Khalid bin Walid Saifullah al-Maslul, Juwairiyah berkata dari Nafi’ mengatakan, “Ketika Khalid meninggal dunia, tidak ada harta apa pun yang ia miliki kecuali tempat tidur, budak laki-laki dan senjatanya.”
Umar bin Khaththab juga demikian. Bahkan, kondisi Umar lebih sederhana lagi. Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Abqariyatu Umar-nya menggambarkan, ketika meninggal dunia, untuk melunasi utang-utangnya, rumah Umar bin Khaththab harus dijual beserta seluruh isinya. Oleh pembelinya rumah tersebut diberi nama Darul Qadha’ (Rumah Pelunasan).

Selasa, 14 Juli 2015

Ucapan minal 'aidin wal-faizin

Asal usul
Ucapan minal 'aidin wal-faizin ini menurut seorang ulama tidaklah berdasarkan dari generasi para sahabat ataupun para ulama setelahnya (Salaf as-Shaleh). Perkataan ini mulanya berasal dari seorang penyair di masa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang konteksnya mengkisahkan dendang wanita di hari raya.

Ucapan Idul Fitri, mudik adalah budaya.... Bukan ritual/ibadah.... Sehingga menganut prinsip relativitas budaya...tidak ada benar dan salah.. Yg penting tidak melanggar Quran dan sunnah...
Sehingga stigma "keliru", "ngawur" adalah tidak pada tempatnya..

Contoh lain dari penerapan budaya adalah Pemakaian gelar Haji dan mudik tidak dikenal di Arab.
Apakah berarti kita harus mengikuti budaya Arab..?
Kalau Rasulullah makannya pakai 3 jari (karena makan kurna)... Apa kita harus makan pakai 3 jari sekalipun yg kita makan itu 
Soto atau cendol...?😜🔨

Aspek gramatikal
Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari 
'aada=kembali) , sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata 'Aidin dan 
Faizin. Darimana sih mereka? 
'Aidin itu isim fa'il (pelaku) dari 'aada. Kalau anda memukul (kata kerja), 
pasti ada proses "pemukulan" (masdar), juga ada "yang memukul" (anda 
pelakunya). Kalau kamu "pulang" (kata kerja), berarti kamu "yang pulang" 
(pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut 
d engan isim fa'il. 

Kalau si Aidin, darimana? 'Aidin atau 'Aidun itu bentuk jamak (plural) dari 
'aid, yang artinya "yang kembali" (isim fa'il. Baca lagi teori di atas). 
Mungkin maksudnya adalah "kembali kepada fitrah" ("kembali berbuka", pen) 
setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa. 

'aada = ia telah kembali (fi'il madhi). 
Ya'uudu = ia tengah kembali (fi'il mudhori) 
'audat = kembali (kata dasar) 
'ud = kembali kau! (fi'il amr/kata perintah) 
'aid = ia yang kembali (isim fa'il). 

Kalau si Faizin? 
Si Faizin juga sama. Dia isim fa'il dari faaza (past tense) yang artinya 
"sang pemenang". Urutannya seperti ini: 
Faaza = ia [telah] menang (past tense) 
Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense) 
Fauzan = menang (kata dasar). 
Fuz = menanglah (fi'il amr/kata perintah)
Fa'iz = yang menang. 
'Aid (yang kembali) dan Fa'iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi 'Aidun 
dan Fa'izun. Karena didah ului "Min" huruf jar, maka Aidun dan Faizun 
menyelaraskan diri menjadi "Aidin" dan "Faizin". Sehingga lengkapnya "Min 
Al 'Aidin wa Al Faizin". Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis 
dengan "Minal Aidin wal Faizin". 
Lalu mengapa harus diawali dengan "min"? 
"Min" artinya "dari". Sebagaimana kita ketahui, kata "min" (dari) biasa 
digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya 
'dari' zuhur hingga ashar. Atau 'dari' Cengkareng sampe Cimone. 

Selain berarti "dari", Min juga mengandung arti lain. 

Syekh Ibnu Malik dari 
Spanyol, dalam syairnya menjelaskan: 
Ba'id wa bayyin wabtadi fil amkinah 
Bi MIN wa qad ta'ti li bad'il azminah 
Maknailah dengan "sebagian", kata penjelas dan permulaan tempat- 
-Dengan MIN. Kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu. 
Dari keterangan Ibnu Malik ini, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN 
pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata "sebagian" 
(lit-tab'idh ) . Jadi secara harfiyah, minal 'aidin wal-faizin artinya: 
BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG. 

Makna kontekstual

dari aspek etimologi, 
Minal ‘Aidin dpt diartikan “Semoga kita termasuk orang2 yg kembali kpd fitrah”, yang merupakan “asal kejadian” manusia.

Secara lengkap, kalimatnya adalah ”Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin” yang artinya “semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan menang”. Jadi, minal aidin wal fazin sendiri berarti dari orang-orang yang kembali (fitri) dan menang. Menang maksudnya menang melawan hawa nafsu selama puasa

Memang " Minal Aidin wal faizin" maknanya bukan "mohon maaf lahir batin"... Makna tidak harus diartikan perkata tapi juga secara kontekstual adalah kembali fitri termasuk "menyamakan score" dengan saling memaafkan....
Dan menurut saya tidak ada yg salah dalam hal ini. Hakikatnya kesitu2 juga --> kembali ke kondisi fitri penciptaan... Yaitu pola hidup yg mengedepankan ketakwaan, keselarasan, 
keseimbangan. 


Idul Fitri

Id = Kembali
Fitri = Fitrah =ujud kehidupan menurut penciptanya--> Cosmos/teratur.

Fitrah manusia (30:30) 
"maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama Allah; (tetaplah) atas fitrah Allah yg telah menciptakan manusia manusia menurut fitrah itu... Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yg lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui...."

Fitrah manusia adalah hidup merunduk patuh dengan ajaran Allah..... "Menang atas hawa nafsu sesaat", kembali bersih dari ego sektoral  menuju ego universal.
.  
Sebelum Ruh ditiupkan dalam janin, telah terikat kontrak dengan Tuhan/Juragan/Bos Alam semesta--untuk senantiasa hidup patuh dengan ajaranNya)

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu (Allah) mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka :"Bukankah Aku ini Tuhanmu/Juraganmu/Bosmu "? Mereka menjawab :"Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi. Kami lakukan yg demikian agar dihari Kiamat kamu tidak mengatakan : sesunggahnya Kami termasuk orang2 yg lengah terhadap hal ini...(7:172)

Tubuh kita didesain dengan sempurna seimbang. Hakekat penciptaan adalah kesempurnaan keseimbangan.

82:7--> Penciptaan manusia
"Yg telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan susunan tubuhmu seimbang"

41:11-->Penciptaan Semesta
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya
:"Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab :"Kami datang dengan suka hati"...

67:3
Yg telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali2 tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yg tidak seimbang. Maka lihatlah berulang2 adakah kamu lihat yg tidak seimbang ?

7:54
Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yg telah menciptakan langit dan Bumi dalam 6 masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutup malam kepada siang yg mengikutinya dengan cepat, dan Matahari, bulan dan bintang2 tunduk pada PerintahNya.
Ingatlah, menciptakan. Dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta Alam...

Semua yg ada dilangit dan bumi sudah tunduk patuh/bertasbih kepada Allah, kecuali kemauan bebas manusia yg bisa Iman atau Ingkar (91;8-10)--Sesungguhnya Allah mengilhamkan kepada jiwa. Itu jalan kefasikan dan ketakwaan, sesungguh beruntunglah orang yg mensucikan dan sesungguhnya merugilah orang yg mengotorinya.

Selamat Idul Fitri 1435 H
"Taqabballahu Minna wa minkum wa Ja'alnallahu Minal Aidin wal Faizin" (semoga Allah menerima amalan yang telah aku lakukan dan telah kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang orang) yg kembali (kepada fitrah--kepatuhan, keselarasan dan keseimbangan) dan (mendapat) kemenangan (mengatasi hawa nafsu).

(Dari berbagai sumber)

Arti Kata Ketupat

Arti Kata Ketupat
( KUPAT)

Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa.
Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khusunya orang tua.

Laku Papat

Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran.
Empat tindakan tersebut adalah:
1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.

Arti Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan

Lebaran
Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan
Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah menjelang lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat Islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

Leburan
Maknanya adalah habis dan melebur.
Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan
Berasal dari kata labur atau kapur.
Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Kamis, 09 Juli 2015

masih ada langit di atas langit.. dan semuanya Pasti akan berlalu...

masih ada langit di atas langit.. dan  semuanya Pasti akan berlalu...
👇

"PESAN ALM. BOB SADINO.."

Membawa selusin bodyguard bukan jaminan keamanan. Tapi rendah hati, ramah, dan tidak mencari musuh, itulah kunci keamanan.

Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga yg teratur, itulah kunci hidup sehat.

Rumah mewah bukan jaminan keluarga bahagia. Saling mengasihi, menghormati, dan memaafkan, itulah kunci keluarga bahagia.

Gaji tinggi bukan jaminan kepuasan hidup. Bersyukur, berbagi, dan saling menyayangi, itulah kunci kepuasan hidup.

Kaya raya bukan jaminan hidup terhormat. Tapi jujur, sopan, murah hati, dan menghargai sesama, itulah kunci hidup terhormat.

Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat. Tapi setia kawan, bijaksana, mau menghargai, menerima teman apa adanya dan suka menolong, itulah kunci banyak sahabat.

Kosmetik bukan jaminan kecantikan. Tapi semangat, kasih, ceria, ramah, dan senyuman, itulah kunci kecantikan.

Satpam dan tembok rumah yg kokoh bukan jaminan hidup tenang. Hati yang damai, kasih dan tiada kebencian itulah kunci ketenangan dan rasa aman.

Hidup kita itu sebaiknya ibarat “Bulan & Matahari”—dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai orang atau tidak, ia tetap menerangi. Diterimakasihi atau tidak, ia tetap “berbagi”.

Jika Anda bilang Anda susah, banyak orang yang lebih susah dari Anda. Jika Anda bilang Anda kaya, banyak orang yang lebih kaya dari Anda. Di atas langit, masih ada langit. Suami, istri, anak, jabatan, harta adalah “titipan Sementara”. Itulah kehidupan.

Nikmatilah hidup selama Anda masih memilikinya dan terus belajar untuk bersyukur dengan keadaanmu! Karena Anda tidak akan tahu kapan Sang Pemilik Raga akan datang dan mengatakan pada Anda, “Ini saatnya Pulang!!”—memaksa Anda meninggalkan apa pun yang Anda Cintai, dan Anda Banggakan, serta Sombongkan...

😎😍😘

Rabu, 08 Juli 2015

Sirah Nabawiyah-Kelahiran dan Masa Kecil Muhammad saw (1)

SIRAH NABAWIAH
Dirangkum oleh Kang Teddy Tedjakusuma dari buku karangan Syeikh Syafiyyur Rahman Mubarakfuri 
 
Kelahiran dan Masa Kecil Muhammad saw (1)
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS Al-Ahzab: 71).
Nabi Muhammad saw lahir di tengah-tengah keluarga Bani Hasyim, di kota Mekkah, Negeri Arab, pada hari Senin pagi, tanggal 9 Rabi’ul Awwal (sebagian pendapat menyatakan 12 Rabi’ul Awwal), bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M.  Ibunya bernama Aminah binti Wahab, sedangkan ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muththalib.  Muhammad saw lahir dalam keadaan yatim, karena ayahnya tersebut telah meninggal sebelum ia lahir.  Nama “Muhammad” diberikan oleh kakeknya yang bernama Abdul Muththalib.  Saat kelahiran bayi Muhammad ia sedang melakukan thawaf di Ka’bah.  Begitu mendengar kabar gembira tentang kelahiran cucunya tersebut, ia langsung mengambil sang bayi dan membawanya ke depan Ka’bah, kemudian berdo’a dan bersyukur atas kelahiran cucunya tersebut.  Ia kemudian menamainya “Muhammad”.
Sudah merupakan kebiasaan kaum Arab yang hidup di perkotaan untuk mencari ibu susu bagi anak-anaknya dan menitipkan mereka pada ibu-ibu susu itu untuk tinggal di pedesaan, agar anak-anaknya terhindar dari berbagai penyakit peradaban di kota, memperkuat fisik mereka, dan agar mereka dapat mempelajari Bahasa Arab yang fasih sejak kecil.  Demikian juga bayi Muhammad dititipkan oleh Abdul Muththalib kepada seorang wanita dari Bani Sa’d bin Bakr, yang bernama Halimah binti Abu Dzuaib.
Karena kehendak Allah, diambilnya bayi Muhammad saw oleh Ibu Halimah banyak mendatangkan berkah bagi keluarga dan kaumnya, walau pada awalnya tak ada wanita yang berminat mengambilnya sebagai anak susu, berhubung statusnya sebagai anak yatim sehingga mereka (para wanita calon ibu susu itu) tak dapat mengharapkan imbalan dari ayah si bayi.  Berkah yang dimaksu di antaranya, kambing-kambing keluarga Halimah banyak mengeluarkan susu, sehingga mereka tak pernah kekurangan susu, sedangkan kambing-kambing keluarga lain tidak mengeluarkan susu karena kondisi bumi perkampungan Bani Sa’d yang tandus.
Ketika Muhammad saw berusia 4 atau 5 tahun dan masih tinggal dengan Ibu Halimah, terjadilah suatu peristiwa yang aneh pada dirinya.  Pada saat ia sedang menggembala kambing bersama seorang anak Halimah, ia didatangi oleh dua orang laki-laki yang berpakaian putih, yang kemudian menangkapnya, membawanya ke suatu tempat, dan membelah dadanya.  Mereka kemudian mengambil segumpal darah hitam dari hatinya dan membuangnya.  Salah seorang dari kedua laki-laki itu berkata, “Inilah bagian syetan yang ada dalam tubuhmu.” 
Imam Muslim meriwayatkan bahwa kedua laki-laki itu adalah malaikat dan salah seorangnya adalah malaikat Jibril.  Setelah kejadian itu, karena khawatir akan keselamatan Muhammad saw, Ibu Halimah mengembalikan Muhammad saw ke ibu kandungnya Aminah.
Suatu waktu, Aminah bermaksud berziarah ke kuburan mendiang suaminya di Yatsrib (Madinah).  Ia pergi bersama putranya Muhammad saw, pembantunya yang bernama Ummu Aiman, dan mertuanya Abdul Muththalib.  Muhammad saw waktu itu berusia lebih kurang 6 tahun.
Takdir Allah Swt tak dapat dihalangi, dalam perjalanan pulang ke Mekkah setelah ziarah tersebut, Aminah jatuh sakit dan meninggal di sebuah dusun bernama Abwa’.  Demikianlah, pada usia 6 tahun Muhammad saw telah menjadi seorang yatim-piatu, tak punya ayah dan tak punya ibu. 

Senin, 06 Juli 2015

KEMATIAN

KEMATIAN

Inilah di antara tulisan terbaik Syekh Ali Thanthawi Mesir Rahimahullah:

"Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu. Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

Akan ada banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaan nya untuk ikut menguburkanmu. Barang barangmu akan dikemas, kunci kuncimu, kitab, koper, sepatu dan pakaianmu.

Jika keluargamu setuju barang2 itu akan disedekahkan agar bermnfaat untukmu.

Yakinlah;

dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dg kepergianmu. Ekonomi akan tetap berlangsung! Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain. Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu.

Sedangkan kamu yg akan dihisab dan diperhitungkan dari hartamu!

Kesedihan atasmu ada 3

Orang yg mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan.

Kawan kawanmu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa!

Di rumah ada kesedihan yg mendalam!
Keluargamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun??

Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!

Demikianlah

"Kisahmu telah berakhir di tengah tengah manusia".

Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, Akhirat!!

Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak.
Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta.
Kini hidup yg sesungguhnya telah dimulai.

Pertanyaannya adalah:

Apa persiapanmu untuk kuburmu dan Akhiratmu??

Hakikat ini memerlukan perenungan.
Usahakan dengan sungguh sungguh.
jalankan kewajiban kewajiban,
hal-hal yg disunnahkan,
sedekah rahasia, merahasiakan amal shalih, shalat malam,
Semoga saja engkau selamat.

Selasa, 09 Juni 2015

awas pencuri bulan Ramadhan

I❗❗awas pencuri bulan Ramadhan❗❗

🐾  Tv , ini merupakan pencuri yg berbahaya, yg bisa merusak puasa orang orang dam mengurangi pahala mereka berupa film sinetron dan iklan murahan.

🐾 pasar, juga merupakan pencuri spesial dlam menghabiskan uang dan waktu tanpa batas. Maka tentukan belanjaanmu begitu pergi kepasar.

🐾 begadang, pencuri yg mengambil waktu yg palimg berharga, pencuri yg mengambil sholat tahajjud dr seoramg hamba di sepertiga malam terakhir, dan mencuri kesempatan tuk istighfar serta taubat.

🐾 dapur, merupakan pencuri yg banyak mengambil waktu yabg panjang untuk membuat beragam jenis masakan berupa makanan dan minuman, hampir hampir semuanya tidaklah lewat dimulut kecuali sejenak saja.

🐾 hp, sebagian orang hanya sekedar menjawab panggilan masuk, iapun diserang dengan dosa berupa ghibah, namimah, dusta, memuji diri atau orang lain, membeberkan rahasai, berdebat tanpa ilmu, ikut campur urusan orang, dan sebagainya dri kesalahan kesalaham mulut yg banyak yg juga merupakan majlis yg kosong dr dzikir.

🐾 kikir, sedekah akan melindungimu dr neraka, dan sebaik baik sedekah adalh dibulan Ramadhon maka bersedekahlah secara terang terangan atau sembunyi sbunyi.

🐾 majlis yg kosong dr mengingat Allah.
 Pencuri ini adalah yg mpersiapkan bagimu penyesalan di hari kiamat -semoga Allah melindungi-

Nabi shallaalhu alaihi wa sallam bersabda:

Tidaklah suatu kaum bermajlis, tidak mengingat Allah pada tidak juga bersholawat kepada Nabi mereka kecuali mereka meninggalkan penyesalan, bila Allah mau maka Allah akan menyiksa mereka, kalau hendah Allah mengampuninya.

Dan "at tirah" adalah penyesalan.

Maka lakukanlah amalan sesuai yg Allah perintahkan

"Ingatlah Allah baik berdiri, duduk atau berbaring"

Adapun pencuri besar adalah FACEBOOK atau WHATSAPP apabila tidak digunakan dengan benar dalam kebaikan dalam menyambut tamu yg berharga ini (Ramadhon)
Aku wasiatkan diriku dan kelalaian untuk bersiap siap menyambut bulan mulai ini; kalaulah anda mendapatinya pada tahun ini, maka belum tentu kamu dapatkan pada tahun yg akan datang.

-Diary IHBS,  ust Zainal Abidin,  Lc

Kamis, 14 Mei 2015

JAWABAN ALLAH SWT


1)- Ketika kita mengeluh :
“Ah mana mungkin…. : .
”✅Allah menjawab :
“Jika AKU menghendaki, cukup Aku berkata“Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)

2)- Ketika kita mengeluh :
“Wah, letih sekali….
”✅Allah menjawab :
“…dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An- Naba :9)

3)- Ketika kita mengeluh :
“Berat sekali ya, gak sanggup rasanya…
”✅Allah menjawab :
“AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dgn kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)

4)- Ketika kita mengeluh :
“Stress nich, bingung?!
” ✅Allah menjawab :
“Hanya dengan mengingatKu hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra’d :28)

5)- Ketika kita mengeluh :
“Yah, ini mah bakal sia-sia..deh! ” ✅Allah menjawab :
”Siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarahpun, niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al- Zalzalah :7)

6)- Ketika kita mengeluh :
“saya sendirian, gak ada seorgpun yang mau membantu…
”✅ Allah menjawab :
“Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)

7)- Ketika kita mengeluh :
“Sedih sekali rasanya…
”✅Allah menjawab :
“La Tahzan,..Innallaha Ma’ana... Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)

8)- Ketika kita mengeluh :
“Ampun..susah banget ini kerjaan…
”✅Allah menjawab : “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah:6-7).

Semoga semua yg kita lakukan pada hr ini bernilai ibadah...
Semoga hari-hari ini adalah hari yang penuh barokah buat kita... amiiin
Selalu ada hari baru utk saling memaafkan kesalahan yg telah berlalu, Selalu ada hari baru utk perbaikan.
Met berbaik sangka selalu..
Insya Allah.

Note : Copas dari WA

Selasa, 12 Mei 2015

TERLALU ITU TIDAK BAIK


TERLALU ITU TIDAK BAIK

1. Dalam pergaulan hindari kata "SELALU" dan TIDAK PERNAH"
2. Mengendalikan diri untuk memiliki hanya yang kita butuhkan, dan jika lebih dari itu sedekahkan pada orang, Karena makin sedikit yg kita milik maka kita akan lebih bisa menikmati.
3. Kita jangan terlalu dalam segala hal. Terlalu senang, terlalu marah, terlalu sedih dan hal-hal lain, karena bisanya akan
4. Jika kita marah, benci sama orang, cari kebaikan dari orang itu sebanyak kemarahan kita (Sebagai penyeimbang. Karena jam rusak pun menjukan  kebenaran 2x dalam sehari, apalagi manusia
5. Sebaliknya saat kita sangat mengagumi seseoarang misalkan karena 5 kelebihan maka berfikir diapun pasti punya kekuarangan yang porsinya mungkin sama, jadi jangan terlalu mengagumi.

Kebahagiaan

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa
- Kayanya
- Tenarnya
- Cantiknya
- Kuasanya
- Sehatnya
- atau sesukses apapun hidupnya.

Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri.. mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal…

“Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka.”

“Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti di belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada .”

Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.

Yang kita butuhkan adalah Hati yang Bersih dan Ikhlas serta Pikiran yang Jernih, maka kita bisa menciptakan rasa “Bahagia” itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun.”

Kebahagiaan itu milik Orang-orang yang dapat Bersyukur

note  : di copas dari WA groups

Kisah Rasulullah Mencium Tangan yang Tak Akan Disentuh Api Neraka Selamanya

RENUNGAN JUM'AT PAGI

Kisah Rasulullah Mencium Tangan yang Tak Akan Disentuh Api Neraka Selamanya

Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah Saw baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?"
Si tukang batu menjawab, "Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar."

Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,"Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada", 'inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya'.

Para sahabat bertanya :
"Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu apakah dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.”

Mendengar itu Rasul Saw pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.”
(HR Thabrani)

Bekerjalah dgn pekerjaan yang HALAL, maka Allah akan memberkahi

Note : Copas dari WA groups

Senin, 04 Mei 2015

Antara hukuman pancung dan tembak

Antara hukuman pancung dan tembak.     

Hukuman mati dengan cara metode Barat atau dengan tembakan, algojonya banyak, namun senapan yang berisi peluru tajam cuman 1. Itu artinya, yang ditembak cuman 1 organ: jantung saja atau otak saja.

Kalau jantung yang ditembak, otak masih berfungsi sehingga orang yang dieksekusi tidak segera mati.

Kalau otak yg ditembak, jantung masih aktif berdetak, maka tidak segera mati. Di harian Kompas tahun 2005 pernah dibahas bahwa terpidana hukuman mati dengan cara ditembak akan menemui ajalnya 20-30 menit setelah tembakan.

Jangan dikira sakitnya seperti apa! Konon kabarnya, pembantai keluarga dokter di Purwokerto itu matinya sekitar 25 menit setelah dieksekusi regu tembak di Nusa Kambangan.

Sebaliknya, yang cara Islam adalah dengan pancung. Algojonya cuma 1 dengan pedang yang amat sangat tajam. Sekali tebas, kepala lepas. Sekilas mengerikan. Namun ternyata, ketika leher putus, “kabel” penghubung antara otak dan jantung (spinal cord) langsung putus. Ketika hubungan otak-jantung putus, jantung kehilangan kontak dengan otak. Akibatnya, jantung langsung berhenti berdetak. Orang mati seketika, tidak perlu berlama-lama merasakan sakit.

Bahkan didasarkan penelitian oleh Prof. Wilhelm Schulze dan Dr. Hazim dari College of Veterinary Medicine, Hannover University, German, kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang yang dipancung itu tidak merasakan sakit, karena tidak ada saraf sakit yang tersentuh.

Kesimpulannya, syari’at Islam tentang hukuman mati dengan cara dipancung itu scientifically excellent.

Kajian ini hampir selalu ana sampaikan saat tugas khutbah shalat Idul Fithri dan Idul Adha, termasuk saat tugas di KBRI London tahun 2011 (saat saya masih sekolah S3 di UK).

Ustadz Dr. Nanung Danar Dono
Dosen Fakultas Peternakan UGM, pengurus MIUMI Yogyakarta.

note : Copas dari WA group

Senin, 27 April 2015

Karena Ukuran Kita Tak Sama

Karena Ukuran Kita Tak Sama
oleh Salim A. Fillah dalam Inspirasi. 02/04/2012

seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

sepenuh cinta,

Kamis, 23 April 2015

IKHLAS ITU

 🍀 IKHLAS ITU 🍀
menentukan diterima atau tidak diterimanya aktivitas kita sebagai ibadah,
Karenanya pastikan ia senantiasa menyertai setiap aktivitas kita

🍀Ikhlas itu…. Ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.
🍀 Ikhlas itu… Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.
🍀 Ikhlas itu… Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.
🍀 Ikhlas itu… Ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka.
🍀 Ikhlas itu… Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah.
🍀 Ikhlas itu… ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.
🍀 Ikhlas itu.. ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan.
🍀 Ikhlas itu… ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu enggan bekerja.
🍀 Ikhlas itu… ketika khilaf mendorongmu minta maaf, ketika salah mendorongmu berbenah, ketika ketinggalan mendorongmu mempercepat kecepatan.
🍀 Ikhlas itu… ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohanmu terhadapnya, ketika kedzalimannya terhadapmu, tidak kau balas dengan kedzalimanmu terhadapnya.
🍀 Ikhlas itu… ketika kau bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah, kau hadapi kata kasar dengan
jiwa besar, ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta.
🍀 Ikhlas itu…. Gampang diucapkan, sulit diterapkan….. namun tidak mustahil diusahakan….
🍀 Ikhlas itu... Seperti surat Al Ikhlas.. Tak ada kata ikhlas di dalamnya...





Note : Copas dari group WA



Senin, 20 April 2015

7 MACAM PERSAHABATAN, TAPI HANYA 1 TERSISA SAMPAI AKHIRAT

7 MACAM PERSAHABATAN, TAPI HANYA 1 TERSISA SAMPAI AKHIRAT

1. “Ta’aruffan” , adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.

2. “Taariiihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.

3. “Ahammiyyatan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

4. “Faarihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing, dan sebagainya.

5. “Amalan”, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.

6. “Aduwwan”, adalah seolah sahabat tetapi musuh, di depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120).
Rasulullah mengajarkan doa, “Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yang bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”

7. “Hubban Iimaanan”, adalah sebuah ikatan persahabat yang lahir batin, tulus saling cinta dan sayang karena ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam dipenghujung malam, ia do'akan sahabatnya.
Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.

Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat, yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10),
“Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67).
Selalu saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
Barakallahu Fikum

MANUSIA SEPERTI SEBUAH BUKU

MANUSIA SEPERTI SEBUAH BUKU.... (*)

Cover depan adalah tanggal lahir...
Cover belakang adalah tanggal kematian.

Tiap lembarnya, adalah tiap hari dlm hidup kita & apa yg kita lakukan.

Ada buku yg tebal,
ada buku yg tipis.

Ada buku yg Menarik dibaca,
ada yg sama sekali tidak menarik.

Sekali tertulis, ga akan pernah bisa di'Edit' lagi.

Tapi hebatnya,
seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih.., baru & tiada cacat...

Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin,
Allah selalu menyediakan hari yg baru untuk kita.

Kita selalu diberi kesempatan baru u/ melakukan sesuatu yg benar dlm hidup kita setiap harinya.

Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita & melanjutkan alur cerita kedepannya sampai saat usia berakhir, yg sudah ditetapkanNYA.

Terima kasih ya Rabb.. utk hari yg baru ini..

Syukuri hari ini....
& isilah halaman buku kehidupanmu dgn hal2 yg baik semata..

Dan, jangan pernah lupa, untuk selalu bertanya kepada Allah, tentang apa yg harus ditulis tiap harinya.

Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan kita selesai, kita dapati diri ini sebagai pribadi yg berkenan dihadapanNYA.

& Buku kehidupan itu layak u/ dijadikan teladan bagi anak2 kita & siapapun setelah kita nanti.

Selamat menulis di buku kehidupanmu,

Menulislah dgn tinta cinta dan kasih sayang, serta pena keBijaksanaan.

Aku berdoa dan berharap :
"agar Allah selalu menyertai setiap langkahmu & langkah kita"

..........karena........
Allah Tidak pernah menJanjikan bahwa

Langit itu selalu biru,
Bunga selalu mekar,
& Mentari selalu bersinar..

Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu :

Memberi pelangi di setiap badai,
Senyum di setiap air mata,
Berkah di setiap cobaan,
& Jawaban di setiap Do'a.

Jangan pernah meNyerah,
Teruslah berJuanglah...

Semoga Amal² keBaikan selama Hidup membuat kita meNutup Lembaran (keHidupan) dgn putih Bersih... 🙏🙏🙏

note : Copas dari WA groups

Cara Masuk Surga Sekeluarga

Cara Masuk Surga Sekeluarga...

☁⛅☀☁⛅☀☁⛅

Oleh Ustadz Bachtiar Nasir

🍲1. Coba suatu hari ingatkan seluruh anggota keluarga begini;
"Kita kerjasama agar masuk surga sekeluarga yuk?"

🍡2. Bagaimana caranya?
 Lihat surat Ath Thur 25-26.

"Para penghuni Surga membocorkan rahasianya bagaimana cara masuk Surga sekeluarga. Mau tau?"

🍳3. Ceritanya penghuni Surga saling bercengkrama berhadap-hadapan, masing-masing bertanya jawab bagaimana keluarga kalian dulu, koq bisa masuk Surga?

🍫4. Jawabnya seragam;
"Kami bisa masuk Surga karena dulu di Dunia, dikeluarga kami saling mengingatkan satu sama lain tentang siksa pedih Neraka".

🍛5. Karenanya Visi rumah tangga orang beriman adalah:
"Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa Neraka"
(At Tahrim; 6).
Ya Rabb, bagus!.

🍔6. Rumahku Surgaku, akan terjadi jika masing-masing anggota keluarga memelihara dirinya dan mengingatkan anggota keluarga lainnya dari siksa Neraka.

🍕7. Siapa yang tak sedih jika ada salah seorg anggota keluarganya (ayah, ibu, kakak atau adik) terjerumus ke lingkungan siksa "Neraka"?.

🍮8. Setiap anggota keluarga pasti sangat sedih jika Bahtera Keluarga pecah dan karam akibat terpaan gelombang kehidupan dunia yang mematikan.

🍦9. Agar masuk Surga sekeluarga, ingatkan anggota keluarga kita yang sedang khilaf berbuat dosa atau lalaikan perintah Allah, jangan dibiarkan.

🍰10. Jangan kecewa kalau peringatan kita diabaikan, atau malah dilecehkan, karena dakwah di tengah keluarga kadang lebih berat, jangan lupa doakan.

🍟11. Nabi Nuh as tak pernah bosan mengingatkan anaknya yg tersesat, Nuh as terus mendoakannya sampai akhirnya Allah tenggelamkan Kan'an.

🍜12. Nabi Luth as tak pernah berhenti memperingatkan isterinya yang membangkang, sampai akhirnya Allah binasakan isterinya bersama kaum Sodom.00:42
🍸13. Asiah binti Muzahim, tertatih -tatih peringatkan suaminya Fir'aun, konsisten mendidik Masyithah & Musa as, akhirnya Asiah yang dibunuh Fir'aun.

🍞14. Habil tak pernah takut mengingatkan dan menasehati kakaknya Qabil, rasa iri dan dengki berkecamuk sampai akhirnya Habil dibunuh Qabil.

🍨15. Agar bisa masuk Surga sekeluarga perlu perjuangan dan pengorbanan yang besar, selain itu kesabaran dan konsistensi juga harus dilakukan.

🍧16. Ingatkan suami agar bekerja ditempat yang halal, jangan bawa pulang penghasilan yg haram, krn akan jadi bahan bakar neraka Rumah Tangga.

🍹17. Ingatkan isteri agar memperhatikan Pola Konsumsi Halal untuk keluarga, anak-anak akan susah diajak taat dan ibadah jika mengkonsumsi yang haram.

🍷18. Ingatkan anak-anak bahwa bahan bakar Neraka adalah Batu dan Manusia, jangan sampai salah seorang dari kita jadi bahan bakarnya Neraka.

🍧19. Ceritakan bahwa penjaga Neraka adalah Para Malaikat Perkasa yang kuat dan kasar, mereka tak pernah khianati Allah & pasti laksanakan perintahNYA.

☕Semoga bermanfaat buat kita dan keluarga kita masing-masing

note : Copas dari WA group